Ini Janji Menteri Komunikasi Dan Informasi Kepada Para Juara Festival Film Santri

Ini Janji Menteri Komunikasi Dan Informasi Kepada Para Juara Festival Film Santri

Mentri Komunikasi dan Informasi, Bapak Rudiantara, MBA bersama sebagian Juara Festival Film Santri 2017

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email
Share on telegram

Santri diharapkan tidak hanya pandai mengaji, namun juga mau dan mampu berkreasi. Demikianlah setidaknya alasan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar Festival Film Santri 2017, lomba film pendek antar pesantren se-Indonesia. Lomba berlangsung sejak September 2016 hingga 28 Februari 2017. Berdasarkan laporan panitia, ada 118 film pendek yang terjaring dari berbagai pesantren dan Boarding School di Indonesia, mulai dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Festival film ini diikuti para santri pesantren dan siswa boarding school tingkat SLTP dan SLTA.

Film-film yang terjaring itu kemudian diseleksi dan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Habiburrahman El Shirazy, Dani Sapawie dan Embie C. Noor. Ada tiga kategori peniliaian, yaitu: Penulis Skenario Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Film Terbaik. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara termasuk yang didapuk panitia untuk menyerahkan penghargaan kepada pemenang sekaligus foto bersama pemenang di Auditorium HM Rasjidi, Kementrian Agama, Thamrin, Jakarta, Sabtu (25/3) malam.

Berikut, daftar pemenang lomba film pendek antar pesantren se-Indonesia yang diumumkan pada Malam Anugerah Festival Film Santri 2017:

Pertama, untuk kategori Penulis Skenario dengan pemenang Syahdan Asmara dari Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi, Jawa Timur, dengan judul film “Annadhaafatu Minal Iman”; M. Ardianysah dari Pondok Pesantren Al Taqwa, Depok, Jawa Barat, dengan judul filmnya “Singa-Singa Peradaban”; dan Siti Nur Hikmah dari MTS Miftahul Khaer, Babakan, Sukabakti, Curug, Tangerang, dengan judul film “Tabungan Masa Akhir”.

Kedua, untuk kategori Sutradara Terbaik yakni: Sinta Wina Maryani dari Pondok Pesantren Zaiunul Hasan, Genggong, Probolinggo, Jawa Tengah, dengan judul film “Diary Santri”; Zaira Rizqiany Firdaus dari Perspektive of Sineas SMK Al Wafa, Bandung, Jawa Barat, dengan judul film “Jujur = Pintar”; dan Zafran Nabil Fauzan, dari Raru Production Pondok Pesantren Modern Rahmatul Asri, Enrekang, Sulawesi Selatan, dengan judul film “96”.

Ketiga, untuk kategori Film Terbaik yakni: “Diary Santri” karya Pondok Pesantren Hasan, Genggong, Probolinggo, Jawa Tengah; “A Light” karya Pondok Pesantren Al Ikhlas Putri, Kuningan, Jawa Barat; dan “Alif” karya Pondok Pesantren Nurul Huda, Pring Sewu, Lampung.
Dalam sambutan seusai membagikan piala dan penghargaan kepada juara, Menteri Komunikasi dan Informasi, bapak Rudiantara, MBA menyampaikan beberapa informasi terkait kebijakan kementrian yang dipimpinnya, antara lain: usia perfilman di Indonesia sudah lebih dari 100 tahun lalu yang pada awal kemunculannya di bilangan Tanah Abang disebut ‘gambar hidup’, Film Islami di samping menyampaikan pesan moral ternyata bisa juga menghadirkan keuntungan secara komersial seperti film Ayat-Ayat Cinta yang tiketnya terjuah lebih dari tiga juta, pemblokiran konten negatif destruktif (pornografi, radikalisme, jual beli terlarang, anti NKRI dan sebagainya) tidak hanya dilakukan di hilir tapi juga sangat perlu diimbangi dengan produksi konten positif konstruktif di hulu, ada sekitar  180.000 situs negatif dan sekitar 100.000 situs positif maka di sinilah letak penting film-film Islami karya santri hendaknya berpartisipasi dan mengisi.

Masih dalam sambutannya, bapak Rudiantara juga berjanji akan memberikan apresiasi kepada para juara terbaik pertama setiap katagori: “Saya sudah bertanya kepada panitia pelaksana, berapa biaya produksi yang dikeluarkan untuk membuat film Islami karya santri ini?, jawabannya kisaran 10 juta, baiklah akan saya ganti dengan 15 juta setiap filmnya!”. Ungkap bapak menteri yang disambut dengan tepuk tangan hadirin termasuk beberapa guru dan santri Darunnajah 2 Cipining Bogor yang hadir pada Malam Anugerah festival Film Santri 2017.

Malam Anugerah Festival Film Santri 2017, Lomba Film Pendek Antar Pesantren Se-Indonesia, dihadiri sejumlah tokoh dan ulama, di antaranya Ketua Umum MUI Pusat, KH Maruf Amin, Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara, Wakil Gubernur Jawa Barat yang juga insan perfilman Dedy Mizwar, Habiburrahman El Shirazy, Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Mastuki, dan insan perfilman Indonesia.

Duta Kesenian Santri Darunnajah 2 Cipining Bogor yang terdiri dari  12 santriwan tim Marawis, 6 santriwan tim Nasyid dan 20 santriwati tim Tari Indang berkesempatan tampil dalam agenda tersebut. Sebagian dari para santri juga berkesempatan berfoto bersama sebagian tamu vip sebagimana diberitakan dalam judul lain di website ini. (wardan/mr.mim).

Mentri Komunikasi dan Informasi, Bapak Rudiantara, MBA bersama sebagian Juara Festival Film Santri 2017

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah