Belum lama ini salah-satu civitas Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor telah kembali berangkat ke luar negeri, tepatnya ke Jerman.
Adalah ustadzah Irma Wahyuni, S.S., M.Pd. kembali sukses mengikuti seleksi program kunjungan ke luar negeri. Beberapa tahun tahu, istri dari ustadz Ahmad Kholil Hadi Nenggolo ini juga telah berkunjung ke Australia.
Untuk kali ini nama programnya adalah Life of Muslim in Germany Study Trip Program. Di antara maksud dan tujuannya adalah Pertukaran Cendekiawan Muslim, Pemahaman budaya Islam sebagai kaum minoritas di Jerman, Seminar/konferensi di beberapa institusi dan universitas, dialog antar agama dengan tokoh-tokoh penting di Jerman, studi banding ke beberapa Lembaga Pendidikan dan Penelitian di Jerman, studi trip ke tempat-tempat bersejarah di Jerman, dan kegiatan Keislaman, Kebudayaan, dan Kependidikan lainnya. Kegiatan yang positif konstruktif ini berdurasi dua pekan, tepatnya pada 7-22 Oktober 2017.
Untuk dapat mengikuti program ini, peserta harus lulus seleksi berkas Administrasi, seleksi pra-interview, seleksi interview.
Menurut penuturan ustadzah Irma, cukup banyak yang minat dengan agenda ini, terbukti jumlah pendaftar sampai 966 dari seluruh Indonesia. Dari ratusan pendaftar berikutnya dipanggil seleksi pra-interview 30 orang, 27 orang kembali dipanggil paska interview dan yang dinyatakan lulus serta berangkat ke Jerman sebanyak 14 orang.
Penyelenggara program ini adalah Goethe Institut Indonesien bekerjasama dengan pemerintah Jerman dan Universitas Paramadina.
Melalui program ini diharapkan dapat membangun kesefahaman dan toleransi antar umat beragama di dunia, khususnya Indonesia sebagai mayoritas muslim dan Jerman sebagai negara minoritas muslim.
Latar belakang 14 orang delegasi Indonesia terdiri dari berbagai profesi; jurnalis/wartawan, penulis, artis, aktifis, pengusaha, peneliti, dosen, guru, dan lain-lain. Mereka berasal dari Jakarta, Garut, Serang Banten, Bogor, Sidoarjo, Jogyakarta, Semarang dan Aceh.
Ustadzah Irma Wahyuni yang merupakan Dosen Bahasa Inggris Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah (STAIDA) sangat bergembira dengan didapatkanya kesempatan ke luar negeri ini, terlebih lagi salah-satu pesertanya adalah artis kondang yang menampilkan life style wanita muslimah muda sholehah cerdas dan modern yaitu Okky Setiana Dewi yang masyhur sebagai Ana Althafunnisa dalam film Ketika Cinta Bertasbih (KCB). KCB merupakan salah-satu best film yang diangkat dari novel best seller karya Ustadz Habiburrahman El Shirazy atau yang lebih populer dipanggil Kang Abik. Kang Abik yang notabene Alumni Al Azhar Mesir ini juga sudah pernah berkunjung ke almameter ustadzah Irma Wahyuni yaitu Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor.
Berikut adalah detail kegiatan ustadzah Irma Wahyuni dan rombongan selama di Jerman:
Mereka mengikuti perkuliahan di Lembaga Kebudayaan dan Pendidikan di beberapa lembaga seperti kampus dan beberap lembaga penelitian, diantaranya adalah di Goethe Institut Berlin, Humbolt University, Universitat Gottingen, Frankfurt University dan Brandenburg Academy of Science.

Selain itu mereka juga studi banding di beberapa kampus tersebut, mengunjungi masjid-masjid yang ada di Jerman terutama Berlin seperti Sehitlik Mosque yang dikelola oleh para imigran Turki, Masjid Darussalam Moschee Kulturzentrum yang dikelola oleh komunitas Sunni di Berlin, Masjid Darul Falah IWKZ yang dikelola oleh komunitas muslim indonesia, dan Masjid Ibnu Rushd yang dikelola oleh Komunitas Muslim Liberal.
Dalam kesempatan tersebut mereka berdiskusi/berdialog dengan berbagai komunitas Islam yang ada di Berlin, belajar memahami bagaimana Islam bisa diterima di Jerman, bagaimana mereka bisa hidup damai dan berdampingan dan saling menghormati, meskipun bukan berarti tidak pernah ada konflik sama sekali.
Mereka juga belajar tentang sejarah dan kebudayaan Jerman dengan mengunjungi berbagai Museum dan tempat-tempat bersejarah seperti Museum the Story of Berlin, Berlin Wall Memorial/ Tembok Berlin, Pergamon Islamic Museum, Museum Imigran yagg juga dijadikan community center, Jewish Memorial, dan juga Gereja Cathedral.
Tidak hanya itu, mereka juga belajar tentang sejarah dan politik Jerman dengan mengunjungi Bundestag/Parliament House. Uniknya, gedung _MPR/DPR_ nya Jerman ini terbuka untuk umum dan menajdi tempat wisata. Bagi ustadzah Irma hal ini menandakan inklusifitas Jerman yang mau menerima siapapun yang datang untuk berkunjung dan belajar, karena di banyak negara lainnya, gedung parlemen dibuat sangat eksklusif dan hanya terbuka untuk orang-orang tertentu saja
Hal lainya, agar mereka turut serta merasakan bagian dari kebudayaan Jerman yang sangat mengapresiasi seni, mereka juga mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Berlin Philharmonie yaitu tempat digelarnya pertunjukkan Musik Orkestra yang menurut warga Jerman termasuk kesenian yang high-class.
Tidak ketinggalan para peserta program ini juga berkunjung ke perpustakaan Staat Bibliotheka Zu Berlin. Di perpustakaan ini naskah-naskah kuno dari Indonesia dilestarikan, diinventarisasi, dan diteliti. Naskah-naskah tersebut adalah naskah-naskah terkait sejarah kebudayaan Indonesia abad 18, 19, dan 20 yang rata-rata berasal dari Jawa. Adapula yang berasal dari Batak. Menurut penelitian mereka, naskah-naskah tersebut bercerita tentang wajah kebhinekaan Indonesia, Islam kejawen, mitos-mitos yang ada dalam kebudayaan kuno Indonesia seperti hari-hari baik untuk melaksanakan hari pernikahan dan sebagainya. Di satu sisi ustadzah Irma merasa bangga karena ternyata negara Indonesia begitu dikenal secara mendalam di Jerman, buktinya sejarah-sejarah kebudayaan kunonya saja diteliti, dikumpulkan dan dilestarikan di tempat yang diistimewakan oleh mereka. Namun di sisi lain ia juga merasa sedih, mengapa yang melakukan penelitian tersebut justru orang-orang Barat dan bukan para ilmuwan atau sejarawan Indonesia?, mungkinkah ini potret masih rendahnya jiwa nasionalisme warga negara Indonesia terhadap kekayaan bangsa sendiri?, tanyanya dalam hati.
Ustadzah Irma merasa semakin heran manakala ditemukan fakta bahwa diantara naskah-naskah kuno yang berasal dari Indonesia yang ada di Jerman sebagian besarnya adalah naskah asli, sedangkan Indonesia hanya punya beberapa naskah salinannya saja yang kata mereka bisa ditemui di museum seni di Jakarta.
Jiwa humanis Jerman yang sekuler juga terasa saat ia dan teman-temannya mengunjungi beberapa community center. Mereka menampung para imigran Turki, Syria, Arab, Bosnia, dan lain-lain di sebuah tempat khusus yang disebut community center. Di tempat tersebut mereka diberi tempat tinggal bersama keluarganya selama beberapa tahun hingga mereka berhasil memiliki pekerjaan dan penghasilan yang layak dan bisa membeli/menyewa apartemen. Mereka juga dibina oleh para volunteer atau sukarelawan untuk belajar bahasa Jerman, bahasa Inggris, atau untuk belajar tentang kebudayaan Jerman agar lebih mudah beradaptasi.
Cinta Darunnajah Dan Harapan Kemajuan Indonesia.
Meskipun berada di luar negeri namun kecintaannya terhadap almameternya tidak mengalami perubahan dan penurunan. Buktinya dari sekian tempat dan organisasi yang dikunjungi, ustadzah Irma menyampaikan bahwa ia juga mewakili pesantren Darunnajah Bogor. Misalnya saat berkunjung ke Departement of Islamic Studies di Humbolt University dan Gottingen University dan JUMA; Lembaga pemuda Islam yang ada di Berlin. Ia berdiskusi dengan beberapa tokoh dan menyampaikan agar mau datang ke Darunnajah jika berkunjung ke Indonesia, dan akan lebih disyukuri jika kemudian bisa terjalin hubungan kerjasama.
Kesan setelah mengikuti program ini ustadzah Irma menjadi semakin sadar bahwa untuk menjadi negara maju harus dibangun dari pribadi individu terlebih dahulu. Jerman sudah sejak dulu membangun hal tersebut mulai dari hal-hal kecil namun prinsipil seperti kedisiplinan dan budaya tepat waktu, suka belajar dan cinta ilmu pengetahuan, membangun kemandirian hidup, dan menghargai org lain. (Wardan/mr. mim).
Muhlisin Ibnu Muhtarom, [28.11.17 22:09]




