“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah”. (Q.S. Luqman [31]: 33).

Peringatan pada ayat ini sebenarnya lebih diarahkan kepada orang-orang kafir. Akan tetapi, sebagaimana disebutkan oleh Al-Ghazaly[1], “Orang-orang beriman (pun), jika mereka menyia-nyiakan perintah-perintah Allah (yaitu untuk mengerjakan amal shalíh), dan justru bergelimang maksiat, maka mereka tertipu seperti orang-orang kafir, yaitu oleh kehidupan dunia dan oleh setan (biang penipu).

Picture 025Orang-orang yang diperdayakan oleh kehidupan duniawi adalah mereka yang bersemboyan: “Kesenangan duniawi yang bersifat segera (materiil, kini, dan di sini) adalah lebih baik daripada pahala di akhirat kelak.” Inilah sejatinya slogan dan moto mazhab materialisme dan sekularisme. Mereka beranggapan kebahagiaan dan kesejahteraan duniawi itulah yang hakiki; sedangkan kebaha-giaan ukhrawi tidak lebih dari sesuatu yang (masih) meragukan. MasyaAllah!

Sungguh, ini adalah analogi yang sama sekali tidak logis ataupun rasional. Memperbandingkan dua hal yang berbeda hádala sesuatu yang keliru. Ini adalah bisikan iblis yang terlaknat, sebagaimana sejak awal dia telah menentang perintah Allah untuk tunduk dan memberi hormat kepada Nabi Adam a.s. Katanya, “Saya lebih mulia/baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, dan Engkau ciptakan dia (hanya) dari tanah.” Dengan demikian setan telah berasumsi tolok ukur keutamaan ada pada asal-usul dan materi penciptaan (padahal sejatinya tidak demikian).

Cara menghindari tipu daya ini ada dua macam: (1) dengan iman, dan (2) dengan argumentasi.

Yang dimaksud iman ialah: membenarkan Allah dalam firman-Nya:

“Dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal”. (Q.S. Asy-Syura [42]: 36).

Dan membenarkan firman-Nya:

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (Q.S. Al-Hadid [57]: 20).

Juga membenarkan segala ajaran dan nasihat Rasulullah s.a.w.

Adapun yang dimaksud argumentasi ialah: hendaknya manusia itu memahami segi kesalahan analoginya. Ketika seseorang berkata, “Dunia ini adalah ibarat sesuatu balasan tunai, sedangkan akhirat adalah balasan yang tertunda”, ungkapan ini benar/sahih belaka. Akan tetapi ungkapan, “Balasan yang tunai (dunia) itu pasti lebih baik daripada yang ditunda (akhirat)”, di sinilah letak tipu daya itu, agar tercampuraduk yang hak dengan yang batil.

Adapun ungkapan “kebahagiaan dunia itu nyata, dan kebahagiaan akhirat itu (masih) diragukan adanya”, ini juga pola pikir yang sesat. Yang benar (justru) akhirat itu sesuatu yang pasti adanya bagi orang-orang yang beriman.

Hal kedua: terpedayanya orang-orang kafir oleh setan, sehingga mereka tidak mau menaati (perintah) Allah. Contohnya ialah kata-kata mereka, “Jika benar Allah akan membangkitkan kami sesudah mati, maka kamilah yang lebih berhak atas balasan pahala daripada orang-orang lain (maksudnya: orang-orang beriman)”, sebagaimana Allah ceritakan di dalam Al-Qur’an:

“Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri[2]; ia berkata: “Aku kira kebun[3] ini tidak akan binasa selama-lamanya. Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang. Dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu”. (Q.S. Al-Kahfi [18]: 35-36).

“Ingatlah tatkala setan menggoda Adam a.s. Dia berkata, “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi[4] dan kerajaan yang tidak aka binasa?” (Q.S. Thaha [20]: 120).

Mereka mengira (karena Allah telah memberikan nikmat yang begitu banyak di dunia ini, maka pasti) Allah juga akan melimpahkan nikmat (pahala dan surga) di akhirat kelak. Mereka juga menduga (karena Allah telah menangguhkan siksa atas mereka di dunia ini, maka mestinya) Allah juga tidak akan mengadzab mereka di akhirat. Perhatikan, misalnya, firman Allah yang menceritakan hal ini:

“Dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak me-nyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 8).

Di lain kesempatan mereka memperhatikan banyak orang mukmin yang (justru) miskin, lalu mereka memperoloknya sambil berucap:

“Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Q.S. Al-An’am [6]: 53).

“Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya dia (Al-Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya[5]“. (Q.S. Al-Ahqaf [46]: 11).

“Orang-orang kafir itu menyangka Allah pasti mencintai mereka, karena telah bermurah hati kepada mereka di dunia ini. Yang benar tidak demikian. Bisa jadi (dan untuk mereka pasti) pemberian Allah itu justru merupakan istidraj[6], sebagaimana disebutkan di dalam Q.S. Al-Mukminun [23]: 55-56, juga dalam Q.S. Al-A’raf [7]: 182-183.[7] Camkan pula ayat Al-Qur’an di bawah ini:

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”. (Q.S. Al-An’am [6]: 44).

Perhatikan dan ambillah pelajaran dari ending story kehidupan (misalnya) Fir’aun, Qarun, dan Namrudz di masa lalu. Ketentuan (sunnah) Allah tidak pernah akan berubah. Nasib serupa pasti akan menimpa siapapun yang berperangai dan berperilaku seperti ketiga manusia zalim itu, baik di masa sekarang maupun yang akan datang.

“Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu, yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar”. (Q.S. Ath-Thariq [86]: 17).

Sekali lagi, pahamilah firman Allah berikut ini:

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah”. (Q.S. Fathir [35]: 5).

Wallahu a’lam bis-shawab.

Disampaikan Oleh; Ust, Mufti Abdul Wakil, S.Pd.I

Pada Khutbah Jum’at, di Masjid Jami’ Darunnajah Cipining


[1] Dalam kitabnya Al-Kasyfu Wa at-Tabyin fi Ghurur al-Khalqi Ajma’in.

[2] Yaitu: dengan keangkuhan dan kekafirannya.

[3] Kata kebun ini adalah kiasan bagi segala kesenangan duniawi: uang, kekuasaan, properti, dan sebagainya (pen.).

[4] Pohon itu dinamakan “syajaratul khuldi” (pohon kekekalan), karena menurut bisikan setan, orang yang memakan buahnya akan kekal, tidak akan mati.

[5] Maksud ayat ini ialah bahwa orang-orang kafir itu mengejek orang-orang Islam dengan mengatakan: kalau sekiranya Al-Quran ini benar tentu kami lebih dahulu beriman kepadanya daripada mereka orang-orang miskin dan lemah itu seperti Bilal, ‘Ammar, Suhaib, Habbab radhiyallahu anhum dan sebagainya.

[6] Arti istidraj adalah pemberian dengan tujuan menarik orang yang diberi secara berangsur-angsur ke arah kebinasaan, tanpa disadari.

[7] Lihat juga Q.S. At-Taubah [9]: 55, dan Q.S. Ali Imran [3]: 178.