DELEGASI DAURAH MENDAPATKAN KESEMPATAN KHUSUS DI RAUDHAH MASJID NABAWI MADINAH

Sabtu (28/6) delegasi Daurah al-Shaifiyyah yang  berjumlah 39 orang dari Indonesia dan Senegal berkunjung ke beberapa perkantoran di sekitar Masjid al-Nabawi Madinah al-Munawwarah. Masjid ini dalam pengelolaan Manajemen yang sama dengan Masjid al-Haram yaitu dibawah tanggung jawab lembaga  Ar-Riasah al-Li Syu’un al-Masjid al-Haram dan al-Masjid al-Nabawi (Kantor Kepemimpinan Urusan Masjid al-Haram dan Masjid al-Nabawi) yang dipimpin oleh Prof. Dr. Abdurrahman al-Sudais.

Mula-mula rombongan diterima oleh Direktur Perpustakaan Masjid al-Nabawi Syaikh A’yidh Syihrani. Beliau menjelaskan secara detail fasilitas dan koleksi buku-buku yang ada di dalamnya. Perpustakaan ini berdiri tahun 1352 H/1934 M atas usulan Direktur Urusan Wakaf Madinah Syaikh Ubaid al-Madani. Saat ini, perpustakaan dibuka untuk umum selama 24 jam dan ditutup di waktu-waktu shalat.

Para pembaca  berasal dari berbagai latar belakang; karyawan, mahasiswa, jama’ah haji dan umrah.  Perpustakaan ini juga memiliki koleksi Manuscript (Makhtutat) Mushaf al-Qur’an dan karya ulama-ulama Muslim. Bagi para pengkaji manuskript diperbolehkan untuk mengakses koleksi tersebut dengan beberapa persyaratan diantaranya 1) harus memiliki surat resmi penelitian dari lembaga, dan 2) memberikan hasil penelitian manuskript ke pihak perpustakaan sebagai koleksi perpustakaan.

Perpustakaan Masjid al-Nabawi

Perpustakaan Masjid al-Nabawi

Pada kesempatan berikutnya, delegasi daurah diterima oleh petugas di Kantor Idarah al-Intaj al-Shauti wa al-Mar’i al-Taujih bi al-Masjid al-Nabawi (Administrasi Urusan produksi Audio dan Video di Masjid al-Nabawi). Kantor ini melayani seluruh rekaman kegiatan para Imam, halaqah para Masyayikh, Muadzin, dan aktivitas lain yang ada di Masjid Nabawi. Hasil produksi kegiatan ini disediakan bagi para jamaah yang membutuhkan.

Pada prosesnya, aktivitas rekaman dilakukan bersamaaan dengan kegiatan kemudian dilanjutkan dengan editing. Setelah itu dikirim ke bagian Idarah al-Intanj (produksi) untuk ditashih. Semua isi rekaman diperiksa untuk menghindari kesalahan. Jika didapatkan ada kesalahan seorang Syaikh dalam mengisi materi halaqahnya, yang bersangkutan akan diminta kembali untuk memperbaiki. Setelah selesai semua prosedur, baru disahkan untuk diproduksi dan menjadi data matang yang siap diberikan kepada siapapun yang memerlukannya.

Para jamaah bisa mendapatkan fasilitas ini dengan gratis sesuai yang diminta menggunakan eskternal hard disk atau flask disc yang bersangkutan.  Kegiatan rekaman ilmiah ini sudah berjalan selama kira-kira 35 tahun sejak tahun 1405 H/1984 M. Materi-materi yang direkam diantaranya adalah sebagai berikut; tafsir, fiqih, usul Fiqh, hadits, qira’at, tajwid, dan Sirah Nabawiyyah.

Pada akhir sesi kunjungan, delegasi Daurah diberikan kesempatan untuk melakukan shalat dan berdoa di Raudhah Masjid al-Nabawi. Setelah menyelesaikan shalat Isya, beberapa petugas mendampingi rombongan untuk melakukan shalat di ruang tersebut. Saat itu, ruang Raudhah ditutup untuk umum, dan dikhususkan bagi delegasi bersama Masyayikh saja.

Mereka melakukan shalat dua rakaat dan  berdoa memohon hajat sesuai yang diharapkan masing-masing. Sungguh, menjadikan kesan yang dalam bagi semua individu peserta daurah, karena mendapatkan kesempatan yang jarang terjadi seperti ini. Tidak semua orang bisa mendapatkan pengamanan dalam memasuki ruang Raudhah yang mana menjadi tempat mustajab untuk berdoa.

Setelah semua menyelesaikan di ruangan ini, Syaikh Dr. Hasan al-Bukhari menjelaskan posisi Raudhah dan sejarah masjid al-Nabawi yang lama serta perluasannya. Beliau merupakan salah satu Syaikh yang mendapatkan kesempatan untuk mengisi halaqah di Masjid al-Haram dan Masjid al-Nabawi serta Penanggungjawab untuk Daurah Shaifiyyah ini.

(Bagian ke-7 dari Laporan Kegiatan Daurah Shaifiyyah Umm al-Qura Mekkah, Much. Hasan Darojat)

 

(DN.COM/arulanisrullh)