Menu

“Darunnajah Adalah Lahan Perjuangan, Bukan Lahan Penghidupan”

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

pendiri

DISIPLIN IBADAH ABDUL MANAF MUKHAYYAR

BAB I

PENDAHULUAN

 

Sebuah rahmat yang besar telah diberikan oleh sang maha kuasa kepada umatnya,diutusnya rasul sebagai pembawa risalah untuk menyamapaikan kepada umat Islam agar mereka ingat dan patuh pada perintah Rabbnya. Dengan itu maka terlihatlah bahwa betapa sayang sang Maha Kuasa kepada hambanya. Sehingga sudah selayaknya hamba pun harus banyak bersyukur kepada-Nya.  Dengan datangnya perintah menunaikan ibadah sholat, hamba yang sadar akan kelemahan diri dan tiada berkuasa di muka bumi ini dengan serta merta merasakan bahwa itu adalah sebuah karunia besar telah dianugrahkan kepadanya. Langsung terlintas dalam dirinya bagaimanakah diri ini semaksimal mungkin untuk menjalankan perintah tersebut baik dalam kondisi apa saja, dan juga memprioritaskan perintah ini dari segalanya apa bila sudah datang panggilan untuk melaksanakan.

 

Kita sering mendengar kata sholat dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga kedengaran terlalu akrab dengan telinga kita. Sholat lebih mengindetifikasikan kepada kepribadian kita untuk bergerak dan berbuat, cerminan ini akan terlihat kala sang hamba benar-benar menjiwai serta mengaplikasikan didalam kehidupan. Jiwa akan tenang, bersih dan tidak ragu dalam melangkah sehingga yang terpancar dari setiap aktivitas itu adalah suatu hal yang baik serta berguna bagi orang lain dan makhluk di muka bumi ini. Indikasi untuk bebuat kejahatan serta merta hilang dibumi hanguskan dengan rasa takut dan merasa bahwa setiap gerak langkah selalu ada yang mengawasinya, maka dengan itulah wawasan berpikir akan mengarah kepada sebuah cerminan kepada perbuatan baik.

BAB II

PEMBAHASAN

IBADAH YANG MEMBENTUK

 PRIBADI KH. ABDUL MANAF MUKHAYYAR

Sholat bukan semata-mata terdetik didalam hati adalah sebuah kegiatan ritual agama belaka, namun itu lebih luas jangka dan daya cakupnya. Akan tetapi kandungan gerakkan itu dan cakupannya bisa memberikan makna dalam kehidupan kita sehari-hari. Dia bisa membuat kepada pembahuran jiwa dan pembersihan rohani, apabila kesatuan gerak dalam sholat sudah tertanam dalam jiwa akan keluar dari dirinya sinar ketakutan, kekhusuan dan tawadu’.

Manusia dalam kehidupan yang sebenar bukan terlihat dari bentuk secara zahir saja sebagaimana para mahluk lainya, akan tetapi kehidupan manusia di lihat sejauh mana hati di hiasi dengan keimanan, ma’rifat Allah dan akidah tauhid yang benar. Sebagaimana disebutkan dalam al qur’an

Artinya :

Dan apakah yang sudah mati kemudian kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tangah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaanya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan” (Al-An’aam:122)

 

  1. Kedudukan Sholat

Sebagaimana telah di syariatkan pada malam Isra dan mi’raj, hal ini merupakan sebuah penghormatan bagi umat islam khususnya. Seakan ketika melaksanakan sholat kita merasakan bahwa ruh ini menuju kelangit kepada Rabbnya sehingga menambahkan keimanan dan ketaqwaan.Kita harus menduduki sholat itu bagaikan kepala pada tubuh kita, artian kata dia sebagai tiang, penopang dan penyangga dari pada tubuh. Dan melihat seorang muslim atau tidaknya terletak dalam hal ini. Sholat ini adalah sebuah kunci keberhasilan juga sebagai tameng keimanan seorang muslim serta menghubungkan antara hamba dengan Rabbnya secara vertikal.

 

  1. Urgennya Sholat

Urgenya sholat ini adalah bahwa selaku hambanya selayaknya patuh dan taat terhadap semua perintahnya, dengan ini ada komunikasi antara dua arah. Karena dengan sholat ini kita bisa merasakan bahwa diri ini lemah dan tiada punya apa-apa. Tidak lain yang di harapkan kecuali dua perkara ketika kita mengabdikan diri kepada Ilahi Rabbi :

  1. Mengharap keridhoan Allah
  2. Mengharap semoga shalat ini bisa memberikan pengaruh dalam diri untuk membersihkan rohani dan mendidik jiwa serta mengharap pahala dari Allah.

 

Ketika kita bersujud tampaklah betapa bahwa anggota tubuh kita muka salah satu lambang sebuah kemulian, dan tanah tempat kaki menginjak-injak sebagai lambang kehinaan karena tempatnya di bawah kaki. Menyatu muka dan tanah untuk bersujud kepada Ilahi Rabbi. Dari hal tersebut menunjukkan kepada diri ini ketiada mampuan dan menyadarkan bahwa kelak akan kembali ketanah tempat asal usulnya. Pada waktu sujud ini adalah merupakan sebuah tempat yang paling mulia didunia, dikarenakan ketika itu jarak yang paling terdekat dengan hamba dan Tuhannya. Pada waktu inilah doa kita didengarkan dan dikabulkan. Yakinlah bahwa pada moment ini sangat baik dan berguna untuk berdoa kepada Allah.

 

DALILIL TENTANG PENTINGNYA SHOLAT

 

  1. Lalai dalam sholat

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya ( Qs. Al Ma’uun ayat 4-5)

  1. Yang meninggalkan sholat

“ Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, Kecuali golongan kanan,, Berada di dalam syurga, mereka tanya menanya,, Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa,  “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” , Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, ( Qs. Al Mudatststir : 38 – 43 )

  1. Ibadah Sholat Yang Membentuk Kepribadian KH. Abdul Manaf Mukhayar

Sholat adalah salah satu ibadah yang membentuk kepribadian seseorang,

  1. Abdul Manaf Mukhayyar adalah sosok yang sangat – sangat konsen dalam melaksanakan agama, Pertama, karena beckround pendidikannya dalah Jamiat Kheir, Kedua, tumbuh dilingkungan keluarga yang agamis.

Mengerjakan solat lima waktu yang wajib sudah menjadi kewajiban yang pokok bagi kehidupan beliau, sholat sunnah tahajjudpun tekun beliau lakukan, bahkan ibadah sholat tahajjud ini salah satu ibadah yang menonjol yang beliau lakukan, menurut KH. Saifuddin Arief, SH.MH, setiap malam beliau bangun sekitar jam 02.00 WIB untuk melaksanakan shalat tahajjud dan membaca al-qur’an, kemudian tidur lagi sebentar sampai datang waktu subuh, bahkan sering tidak tidur setelah melakukan shalat tahajjud beliau sering berkeliling pesantren pada malam hari karna waktu itu belum ada satpam dan masyarakat sekitar belum akur dengan pesantren.

Pada akhir bulan Ramadhan tahun 2000, Abdul Manaf sempat menyaksikan cahaya terang “lailatul qodr” kejadian itu berlangsung setelah beliau membaca al-qur’an dan shalat tahajjud, dan perihal ini diceritakan kepada anak Sofwan Manaf. Ketekunan ibadah beliau terlihat ketika sakitpun beliau tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah dimasjid, beliau akan selalu terlihat di shof bagian depan ketika solat lima waktu datang.

Pengalaman penulispun ketiaka tahun 2003/2014 datang ke Darunnajah, Merupakan kesempatan yang langgka dan sangat luar biasa untuk bisa selalu bersama beliau, setiap waktu shalat datang 15 menit sebelum kumandang adzan terdenganr beliau sudah memberikan tanda bel yang dipasang dikamar penulis bertanda beliau sudah siap untuk berangkat ke Masjid.

Maka dengan ini terlihat kepribadian beliau terbentuk dengan kedesiplinanya dalam melasanakan shalat, beliau disiplin mengawasi pesantren, beliau memiliki etos kerja yang keras karena beliau juga keras dalam disiplin ibadah, beliau berkarakter tangguh pendirian karena beliau juga teguh pendirian dengan tidak pernah melewatkan shalat lima waktu berangkat ke masjid, beliau berkomunikasi yang baik dengan orang lain Karena beliau juga selalu sebaik – baiknya dan sekhusuk – khusuknya berkomukasi dengan sang pencipata setiap dalam ibadahnya.

Kegemarannya beribadah beliau akan sanggat terlihat ketika beliau mewakafkan hartanya lebih banyak untuk kepentingan pesantren dari pada untuk keluarganya, ini adalah salah satu contoh yang sangat besar dan pengorbandan yang sangat besar untuk mewakafkan hartanya lebih besar ke Pesantren daripada keluarganya, kalau bukan karna ketekunanya beribadah tidak akan bisa beliau mengambil keputusan yang sanggat besar tersebut. Semua itu sudah terbentuk Karen keyakinnya kepda sang pencipta seluruh keluarganya sudah ada yang menjamin yaitu Allah SWT,

“Darunnajah adalah lahan perjuangan, bukan lahan penghidupan”

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Setelah mengetahui bahwa perlunya bersungguh-sungguh dalam melaksanakan derap langkah sholat dalam jiwa kita dikarenakan musuh kita setan selalu bersungguh-sunguh pula untuk merusak shalat yang kita lakukan. Sementara permusuhan ini tidak akan berhenti kecuali ketika kita menemui Allah.

Dengan kedesiplinan shalat ini pendiri Darunnajah KH. Abdul Manaf Mukhayyar bisa mempunyai karakter yang kuat untuk memimpin lembaga Pondok Pesantren Darunnajah.

Sewajarnya sebagai muslim untuk selalu mencoba untuk memperbaiki dan bersungguh-sungguh untuk mengaplikasikan nilai-nilai sholat terkandung didalamnya. Karena dengan itu akan terwujud kebaikan dan kesejahteran di muka bumi ini. Maka pebaiki dan perbaharui sholat, yakinlah titik bergerak dalam interaksi dalam kehidupan sesama mahluk dimuka bumi ini adalah di awali dengan bagaimana kita melakukan sholat denga baik dan benar!

 

 

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor

Biografi Maulana Malik Ibrahim (1404-1419 M)

Maulana Malik Ibrahim rah.a putra dari Syekh Jumadil Kubra (Maulana Akbar)[1]. Pada umumnya, silsilah Maulana Malik Ibrahim dianggap termasuk keturunan Rasulullah SAW, Meskipun masih terjadi