Menu

Dakwah Rasulullah Saw. Ke Thaif

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Setelah sembilan tahun Muhammad diangkat sebagai Rasulullah, beliau masih menjalankan dakwah di kalangan kaumnya sendiri di sekitar kota Makkah untuk mengusahakan hidayah serta perbaikan kaumnya, tetapi hanya sebagian kecil saja orang yang mau memeluk agama Islam atau bersimpati kepadanya, selebihnya selalu berusaha dengan segala daya upaya untuk menganggu dan menghalangi beliau dan pengikut-pengikutnya. Di antara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Nabi adalah Abu Thalib, paman beliau sendiri, namun sayangnya ia tidak pemah memeluk Islam sampai akhir hayatnya.

Pada tahun kesepuluh setelah kenabian, Abu Thalib wafat. Dengan wafatnya Abu Thalib ini, pihak kafir Quraisy merasa semakin leluasa mengganggu dan menentang Nabi saw.

Tha’if merupakan kota terbesar kedua di kawasan Hijaz. Di sana terdapat Bani Tsaqif, suatu kabilah yang cukup kuat dan besar jumlah penduduknya. Rasulullah saw. pun berangkat ke Tha’if dengan harapan dapat membujuk Bani Tsaqif untuk menerima Islam, dengan demikian beliau akan mendapatkan tempat berlindung bagi pemeluk-pemeluk Islam dari gangguan kafir Quraisy. Beliau pun berharap dapat menjadikan Tha’if sebagai pusat kegiatan dakwah.

Setibanya di sana, Rasulullah saw. mengunjungi tiga tokoh Bani Tsaqif secara terpisah untuk menyampaikan risalah Islam. Namun yang terjadi, mereka bukan saja menolak ajaran Islam, bahkan untuk mendengar perkataan Nabi saw. saja mereka tidak mau. Rasulullah saw. diperlakukan secara kasar dan biadab. Sikap kasar mereka itu sungguh bertentangan dengan kebiasaan bangsa Arab yang selalu menghormati tamunya. Dengan terus terang mereka mengatakan bahwa mereka tidak senang Rasulullah saw. dan pengikutnya tinggal di kota mereka. Semula Rasulullah membayangkan akan, mendapat perlakuan yang sopan diiringi tutur kata yang lemah lembut, tetapi ternyata beliau diejek dengan kata-kata kasar. Salah seorang di antara mereka berkata sambil mengejek, “Benarkah Allah telah mengangkatmu menjadi pesuruh-Nya?” Yang lain berkata sambil tertawa, “Tidak dapatkah Allah memilih manusia selain kamu untuk menjadi pesuruh-Nya?” Ada juga yang berkata, “Jika engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak ingin berbicara denganmu, karena perbuatan demikian itu akan mendatangkan bencana bagiku. Sebaliknya, jika kamu searang pendusta, tidak ada gunanya aku berbicara denganmu.”

Menghadapi perlakuan ketiga tokoh Bani Tsaqif yang kasar itu, Rasulullah saw. yang memiliki sifat bersungguh-sungguh dan teguh pendirian, tidak menyebabkannya putus asa dan kecewa. Setelah meninggalkan tokoh-tokoh Bani Tsaqif yang tidak dapat diharapkan itu, Rasulullah mencoba mendatangi rakyat biasa, kali ini pun beliau mengalami kegagalan. Mereka mengusir Rasulullah dari Tha’if dengan berkata, “Keluarlah kamu dari kampung ini! Dan pergilah ke mana saja kamu suka!”

Ketika Rasulullah menyadari bahwa usahanya tidak berhasil, beliau mernutuskan untuk meninggalkan Tha’if. Tetapi penduduk Tha’if tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengeni Nabi saw. demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran darah. Dalam . perjalanan pulang, Rasulullah saw. menjumpai satu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut, kemudian beliau berdoa;

Sahabat_0002

“Ya Allah, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Apakah kepada musuh yang akan menerkam aku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap dan atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu kepadaku atau turun- nya ketidakridhaan-Mu kepadaku. Jauhkanlah murka-Mu hingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan-Mu.”

Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan kepada Allah oleh Nabi saw. sehingga Allah mengutus malaikat Jibril a.s. untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril a.s. memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk mentaati perintahmu.” Sambil berkata demikian Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah saw..

Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika engkau mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.

Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah saw. dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”

Hikmah:

Perhatikanlah teladan mulia yang dicontohkan oleh Nabi saw.. Kita semua mengaku sebagai pengikutnya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari jika keinginan kita ditolak atau tidak disetujui, dengan cepat kita tersinggung dan memaki-maki, bahkan kadang-kadang ingin membalas dendam. Padahal, sebagai pengikutnya hendaknya kita mencontoh beliau. Setelah menerima penghinaan dari penduduk Tha’if, beliau hanya berdoa dan tidak memarahi mereka, tidak mengutuk mereka, dan tidak mengambil tindakan balas dendam walaupun diberi kesempatan untuk itu. [WARDAN/@abuadara]

Dikutip dari Hikayat Para Sahabat | Fadhilah Amal

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait