Dai Darunnajah Cipining Ikuti Sarasehan Pesantren Indonesia
Menu

Dai Darunnajah Cipining Ikuti Sarasehan Pesantren Indonesia

Da'i Darunnajah Ikuti Sarasehan Da'i Nasional di Depok

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Dalam rangka mengembangkan potensi dakwahnya, tahun ini Corps Dakwah Dompet Dhuafa (Cordofa) memfokuskan perhatian pada pengembangan dakwah di lingkungan pesantren. Untuk itu Cordofa menyelenggarakan Sarasehan Pesantren Indonesia. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 1 s.d 3 Desember 2015 bertempat di Golf Sawangan Depok Hotel and Resort.

Da'i Darunnajah Ikuti Sarasehan Da'i Nasional di Depok
Da’i Darunnajah Ikuti Sarasehan Da’i Nasional di Depok

Peserta sarasehan berjumlah 33 orang. Mereka adalah para kiai/ustadz/dai utusan pesantren-pesantren dari 24 provinsi di Indonesia. Pesantren Darunnajah 2 Cipining dalam hal ini diwakili oleh ustadz Husnul Mubarok, S.Pd yang akhir tahun 2014 mengikuti program kegiatan Dai Samudera Dompet Dhuafa (DD).

Sarasehan pertama ini bertujuan untuk menjalin ukhuwah Islamiyyah dengan pesantren sebagai mitra dalam pengembangan dakwah. Rangkaian acara pembukaan diawali dengan pemutaran profile pengembangan dakwah Dompet Dhuafa yang telah dilaksanakan baik di dalam negeri maupun manca negara.

Sarasehan lalu dibuka secara resmi oleh Presiden Direktur Dompet Dhu’afa Ahmad Juwaini. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah salah satu pengembangan program dompet dhuafa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam memahami arti luas tentang islam khususnya di bumi Nusantaran ini.

Sambutan juga disampaikan oleh Manajer Cordofa ustadz Ahmad Fauzi Qosim. Beliau sekaligus menyampaikan pengarahan agenda sarasehan. “Dakwah sangat dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu muncul ide agar dakwah semakin luas dan dapat diterima di seluruh lapisan. Melalui forum sarasehan ini para kyai, muballigh, dai dan ustadz/ah diharapkan dapat menjadi motor/poros utamanya,” jelas ustadz Ahmad Fauzi.

Sesi pertama sarasehan adalah Brainstorming Dakwah Indonesia oleh ustadz H. Bachtiar Nasir, Lc, M.A. Beliau menyampaikan bahwa dakwah tidak hanya tugas para dai, tetapi kewajiban bagi seluruh ummat muslim. “Kegiatan dakwah juga harus dilakukan dengan baik dan profesional sesuai yang dibutuhkan dalam perkembangan masyarakat pada umumnya”, papar ustadz Bachtiar.

Da'i Darunnajah Cipining Bogor
Da’i Darunnajah Cipining Bogor

Lebih jauh beliau mengatakan, adakalanya seseorang harus berhijrah untuk menjadi lebih baik dari kehidupan sebelumnya. Disampaikan pula ada 3 golongan manusia yang berpengaruh serta disegani dalam hal kehidupan sosial bermasyarakat, yaitu: (1) golongan penguasa, (2) golongan orang kaya dan (3) golongan nabi/rasul. Di akhir sesi beliau menegaskan, “Sesuatu yang ma’ruf harus dilakukan dengan ma’ruf, dan kemungkaran tidak akan pernah bisa diatasi dengan kemungkaran yang lebih besar”.

Sesi kedua diisi oleh K.H. Wahfiudin Sakam dengan materi Spiritualitas Da’i dalam menghadapi tantangan dakwah. Narasumber memaparkan sebagian masyarakat salah memahami tentang kewajiban mengajak yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran. Beliau juga menyampaikan tujuan utama dakwah adalah proses menyatukan antara badan/jasmani yang cenderung dikuasai oleh hawa’/keinginan dan ruh yang dibimbing oleh akal pikiran sehat, lalu mengaplikasikannya dalam tindakan/ perbuatan.

Hari kedua sarasehan diawali dengan shalat shubuh berjama’ah senam ergonomik. Senam dipimpin oleh ustadz Fajar Shafari Nugraha, S.E.I. Dia adalah alumnus TMI Darunnajah Cipining angkatan ke-16 tahun 2009. Senam ergonomik diilhami dari gerakan-gerakan sholat yang ternyata bermanfaat mengatur pernapasan agar lebih teratur serta terbebas dari berbagai macam penyakit.

Sesi ketiga adalah diskusi panel I, dengan panelis kiai/ustadz dari beberapa pesantren ‘senior’. Di antaranya adalah ustadz Mukhlis Samsudin (Pesantren Sumatera Tawalib Parabek Sumatera Barat, berdiri tahun 1910); ustadz Muh. Anas (Pesantren Buntet Cirebon Jawa Barat, 1758) ustadz Dr. Khalid Muslich (PMD Gontor Ponorogo Jawa Timur, 1926) dan ustadz Hasan (Pondok Pesantren Al-Khairaat Palu sulawesi Tengah).

Diskusi diawali dengan pemutaran video profil pesantren para panelis. Diskusi berlangsung dengan baik. Peserta sarasehan terlihat sangat antusias dalam memberikan masukan, kritik dan saran sekaligus membuka wawasan baru bagi peserta lainnya.

Sesi diskusi panel II mengambil tema “Peran Pesantren dalam Dakwah Transformatif dan Pemberdayaan Ummat”. Panelis adalah utusan pesantren-pesantren wilayah barat: Hj. Ummu Wachidah (Istri dari Habib Assegaf Alm., pengasuh PP Al-As’ariyah Nurul Iman Parung Bogor Jawa Barat), dan ustadz M. Idris (Pesantren Nurul Fikri Cilegon Banten).

Pada sesi terakhir dipaparkan program jejaring Dompet Dhuafa yang beririsan dengan Pesantren. Program ini bertujuan agar peran dari pihak DD dan Pesantren dapat bersinergi dalam dunia pendidikan, kesehatan, ekonomi, wira usaha, kebencanaan, lingkungan, keterampilan/entrepreneurship, layanan mustahik ZIS. Sinergi juga diharapkan terjadi pada bidang pengembangan jaringan, buruh migran, pendidikan antikorupsi dan peace building.

Di hari ketiga para peserta sarasehan diajak mengunjungi Zona Madina sebagai basis wilayah program pemberdayaan Dompet Dhuafa. Acara visitasi dimulai di Pusat Radio Suara DD, dilanjutkan ke Rumah Sehat DD untuk menyaksikan langsung excellent service di bidang pengobatan dan perawatan gratis bagi dhu’afa. Di sini peserta juga diajak menjenguk beberapa pasien yang sedang dirawat. Sasaran kunjungan berikutnya adalah area budidaya ikan hias koi, mas, lele dll. Terakhir, peserta meninjau lokasi budidaya tanaman sayuran sistem polybag dan pengembangbiakan jamur tiram oleh mitra DD.

Sesi terakhir sarasehan adalah evaluasi. Seusai doa bersama di saung zona madina para peserta berjabat tangan dengan seluruh jajaran panitia pelaksana dari pihak DD. Selain mendapatkan wawasan pengetahuan, peserta juga dibekali beberapa buku karya/terbitan DD. [WARDAN/Moebarok Noor].

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Menghadapi Ujian Dari Allah dengan Kesabaran

Manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan allah dari makhluk yang lain. Mengapa demikian? Karena manusia adalah makhluk istimewa yang allah beri akal dan jasad yang

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Menyibukkan Diri Untuk Mengingat Allah Dengan Berdo’a

Kita sering kali susah payah menggapai hasil yang kita cita-citakan. Tak peduli siang maupun malam mengeluarkan keringat untuk menggapainya. Entah perihal akademik, bisnis atau bidang