Search
Close this search box.
blank

Apa dampak permusuhan dan pertikaian dalam kehidupan bermasyarakat?

Apa dampak permusuhan dan pertikaian dalam kehidupan bermasyarakat?

blank

Permusuhan dan pertikaian dapat menimbulkan dampak negatif yang luar biasa dalam kehidupan bermasyarakat.

Pertama, permusuhan dan pertikaian dapat merusak persatuan dan kesatuan.

Masyarakat yang terpecah belah akan sulit untuk maju dan berkembang.

Kedua, permusuhan dan pertikaian dapat menimbulkan kekerasan, baik verbal maupun non-verbal.

Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru dan menimbulkan korban.

Ketiga, permusuhan dan pertikaian dapat menghambat kemajuan dan produktivitas masyarakat.

Energi yang seharusnya difokuskan untuk membangun justru terbuang percuma untuk konflik.

Tulisan ini membahas tentang larangan saling menghina dalam Islam, dalil-dalil dan hikmah di baliknya, serta bagaimana Islam mendorong persaudaraan dan penyelesaian konflik secara damai.

Berikut uraiannya:

Mengapa saling menghina dilarang keras dalam Islam?

Islam dengan tegas melarang perbuatan saling menghina.

Menghina orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, adalah perbuatan tercela.

Menghina dapat merendahkan martabat seseorang, melukai perasaannya, dan memicu permusuhan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat:11)

Melalui ayat ini, Allah SWT memerintahkan kita untuk tidak saling menghina dan memanggil dengan gelar-gelar buruk, karena bisa jadi orang yang kita hina justru lebih baik dari kita.

Saling menghina hanya akan menimbulkan kedengkian dan menyulut api permusuhan.

Apa saja dalil Al-Qur’an yang melarang perbuatan saling menghina?

Selain surat Al-Hujurat ayat 11 di atas, larangan menghina juga terdapat dalam ayat lainnya, yaitu:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. Al-An’am:108)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah SWT melarang menghina sesembahan orang musyrik sekalipun, karena hal itu bisa memicu mereka untuk membalas menghina Allah SWT dan Islam.

Prinsipnya sama, kita dilarang menghina siapapun, karena ujungnya bisa memicu permusuhan.

Allah SWT juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujurat: 11)

Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan kembali larangan saling menghina dan memanggil dengan panggilan buruk.

Allah menyebut perbuatan itu sebagai kezaliman, karena menghina berarti merendahkan dan menzalimi orang lain.

Apa saja hadits shahih yang melarang perbuatan saling menghina?

Rasulullah SAW juga melarang perbuatan saling menghina dalam beberapa hadits shahih, di antaranya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, dan saling membelakangi (memusuhi)! Janganlah ada seseorang dari kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim lainnya adalah bersaudara, dia tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh menelantarkannya, tidak boleh menghinanya. Takwa itu ada di sini (beliau menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila dia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)

Hadits ini dengan jelas menyebutkan bahwa menghina sesama muslim termasuk perbuatan yang diharamkan.

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa saling menghina dapat menghapus kebaikan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari no. 48 dan Muslim no. 64)

Apa hikmah di balik larangan saling menghina dalam Islam?

Islam melarang saling menghina tentu bukan tanpa alasan.

Ada beberapa hikmah di balik larangan tersebut:

1. Menjaga persaudaraan dan persatuan umat.

Saling menghina dapat memecah belah umat dan merusak ukhuwah islamiyah.

2. Menghindari dosa dan kezaliman.

Menghina adalah perbuatan dosa dan tindakan kezaliman yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

3. Menjaga lisan dari perkataan buruk.

Islam sangat menjaga kehormatan dan kesucian lisan seorang muslim.

4. Menebarkan cinta dan kasih sayang.

Menghormati dan menyayangi sesama lebih baik daripada merendahkan dan menghina orang lain.

5. Melatih hati untuk rendah hati.

Seseorang yang menghina orang lain biasanya memiliki sifat sombong dan merasa dirinya lebih baik.

Bagaimana pandangan ulama tentang bahaya saling menghina?

Para ulama telah menjelaskan bahaya saling menghina dalam kitab-kitab mereka.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengatakan bahwa mencela dan menghina orang lain termasuk akhlak yang tercela.

Bahkan jika mencela non-muslim sekalipun, perbuatan itu tetap dilarang, karena dapat memancing mereka untuk mencela Allah dan Islam.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa menghina, mengejek, mencela, dan merendahkan orang lain adalah perbuatan haram yang akan mendapat dosa besar.

Menghina dapat menimbulkan permusuhan, memutus tali silaturahmi, dan merusak persatuan umat.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Ad-Da’ wad Dawa’ mengatakan:

“Aib yang paling besar ialah engkau menyebutkan aib orang lain, padahal engkau sendiri juga memiliki aib itu dan engkau tidak menyadarinya.”

Bagaimana cara Islam mendorong umatnya untuk menjaga persaudaraan?

Islam sangat menekankan pentingnya persaudaraan dan mengajarkan umatnya berbagai adab untuk menjaga ukhuwah, di antaranya:

1. Saling memaafkan dan berlapang dada.

Allah SWT berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nur: 22)

2. Menghindari prasangka, ghibah, dan tajassus.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah olehmu berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari isu, jangan pula saling menebar kebencian, jangan saling mendengki, saling membelakangi satu sama lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari no. 6066)

3. Saling tolong menolong dalam kebaikan.

Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah: 2)

blank
Foto: Mushafahah antara pengurus pesantren dan wali murid pada acara Haflah Takharuj Putri ke-25 (2024).

Bagaimana cara Islam mendorong penyelesaian konflik secara damai?

Islam selalu mengutamakan jalan damai dalam menyelesaikan konflik.

Jika terjadi perselisihan, Allah dan Rasul-Nya mengajarkan untuk menempuh musyawarah dan jalan dialog.

Allah SWT berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)

Islam tidak segan mengambil langkah tegas jika jalan damai tidak tercapai.

Namun penyelesaian tanpa kekerasan tetap menjadi prioritas utama.

Rasulullah SAW mencontohkan hal ini ketika menaklukkan kota Mekah tanpa pertumpahan darah (Fathu Makkah).

Padahal sebelumnya kaum muslimin mengalami penganiayaan dan diusir dari kampung halaman.

Bagaimana cara menyikapi hinaan dari orang lain sesuai ajaran Islam?

Jika mendapat celaan dan hinaan dari orang lain, Islam mengajarkan kita untuk:

1. Bersabar dan menahan amarah.

Allah SWT berfirman:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

2. Membalas keburukan dengan kebaikan.

Allah SWT berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Artinya: “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34)

3. Memaafkan dan tidak membalas dengan hinaan serupa.

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Artinya: “Bukanlah orang yang kuat itu adalah orang yang pandai bergulat. Orang yang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609)

Apa saja manfaat menjaga persaudaraan dan menghindari pertikaian?

Islam sangat menjunjung tinggi persaudaraan karena banyak manfaat yang bisa didapat, di antaranya:

1. Mendapat cinta dan ridha Allah SWT.

2. Menumbuhkan rasa kasih sayang dan empati

3. Memudahkan urusan dunia dan akhirat.

4. Menumbuhkan semangat saling menolong dan peduli.

5. Mempererat kesatuan dan persatuan umat.

6. Menjauhkan diri dari permusuhan dan perpecahan.

7. Menjaga ketenangan jiwa dan kebahagiaan hidup.

8. Pahala berlipat ganda dan amalan tak terputus.

Sebaliknya, perselisihan dan pertikaian hanya akan menimbulkan kerugian, baik di dunia maupun akhirat.

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini menekankan pentingnya persaudaraan dalam Islam dan larangan untuk bercerai berai.

Persaudaraan adalah nikmat yang besar dari Allah SWT yang harus senantiasa kita jaga dan pelihara.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan beberapa poin penting:

1. Islam dengan tegas melarang perbuatan saling menghina dan mencela orang lain.

2. Banyak ayat Al-Qur’an dan hadits shahih yang mengingatkan bahaya lisan dan buruknya saling menghina.

3. Saling menghina dapat memicu permusuhan, perpecahan, dan menghapus pahala kebaikan.

4. Ada banyak hikmah dan pelajaran berharga di balik larangan saling menghina.

5. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menjaga persaudaraan dan menghindari pertikaian.

6. Jika terjadi konflik, Islam mengajarkan untuk menyelesaikannya dengan jalan damai dan musyawarah.

7. Menyikapi hinaan orang lain dengan sabar, tidak membalas, dan memaafkan adalah cara terbaik.

8. Menerapkan adab muamalah dalam kehidupan sehari-hari dapat mempererat ukhuwah islamiyah.

9. Menjaga persaudaraan mendatangkan banyak manfaat dan kebaikan di dunia dan akhirat.

Penutup

Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita menghindari perbuatan saling menghina dan mencela orang lain.

Sebaliknya, mari kita budayakan tutur kata yang baik, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan.

Saling mencela sama sekali tak ada manfaatnya, justru hanya menimbulkan dosa dan kerugian.

Kita pun berharap semoga bisa istiqamah menjaga persaudaraan dan terus menjalin hubungan yang baik antar sesama.

Mari Kita Bentengi Lisan dan Perbanyak Amal!

Akhirnya, sebagai kesimpulan akhir dan pesan moral dari pembahasan kita kali ini, mari kita semua berkomitmen untuk:

1. Menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia dan menyakiti orang lain.

2. Perbanyak dzikir, istighfar, dan amalan shalih sebagai obat hati dan penjaga lisan.

3. Budayakan ucapan dan perilaku yang baik penuh cinta kasih dalam berinteraksi.

4. Saling menasihati dan mengingatkan dengan cara yang baik jika ada yang keliru.

5. Jika ada konflik, segeralah berdamai, berlapang dada, dan saling memaafkan.

6. Mari kita jaga persaudaraan, eratkan ukhuwah, karena itulah aset berharga kita sebagai umat Islam.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadi pribadi yang selalu menjaga lisan dan perbuatan.
Semoga kita termasuk golongan yang beruntung, yang selamat dan bahagia di dunia maupun akhirat kelak.

Aamiin ya rabbal ‘alamin.

“Katakanlah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018)

Pendaftaran Siswa Baru Pesantren Darunnajah