Dari akademisi, pemerhati dan aktivis lingkungan hidup kita sering mendengar peringatan bahaya limbah B3. Ancaman, yang sebagian sudah menjadi kenyataan, ini muncul seiring industrialisasi dan pembangunan fisik serta konsumsi yang kian massif, terutama di dunia ketiga. Berbagai upaya pencegahan dan penaggulangan telah dan terus diupayakan hingga menelan biaya milyaran dolar.

Namun, jika kita mau meneliti lebih mendalam, semua itu sebenarnya hanya efek dari penyakit ‘dalam’ yang berupa nifaq dan kufur. Sayangnya manusia yang dijangkiti oleh kedua penyakit akut sekaligus kronis ini seringkali tidak menyadari, bahkan tidak memahaminya.

Penyakit ini juga menular. Dan, seperti rokok, orang yang terpapar ‘asap’nya secara pasif justru seringkali menanggung bahaya lebih besar, juga membahayakan bagi sesama. Lagi-lagi, yang tertular pun tak juga mengerti. Malah kadang ia dengan pede mengkalim, “Saya steril koq”.

Limbah nifaq dan kufur yang harus kita waspadai, karena amat destruktif bagi ummat, itu adalah D3. Mari kita urai satu persatu.

Banyak orang yang ‘kaduk wani kurang duga’ alias lancang berkomentar dan berfatwa dalam bidang agama, sekalipun sebagian mereka memang telah belajar agama untuk beberapa waktu. Jargon mereka adalah relativitas.

Ketika ada seorang alim mengutip ayat al-Qur’an untuk menasihati ummat, bahkan ada yang nekat nyeletuk, “Benarkah itu wahyu Tuhan?”. Lanjutannya, “Benar, itu adalah ayat Kitab Suci, tapi kan tafsirnya berbeda-beda. Otoritas tafsir juga bukan monopoli individu tertentu. Kita juga punya hak menafsirkan.”

Terlebih jika sumber hukum yang dipakai adalah hadits. “Hadits itu termasuk kategori lemah, bahkan dusta,” celoteh mereka. Hadits memang menjadi sasaran empuk desakralisasi wahyu oleh kelompok ini. Maklum, sulit sekali mereka menemukan celah untuk menohok dari sisi al-Qur’an. Yang ada justru sebaliknya, banyak orang yang awalnya ingin mencari titik lemah Islam di situ, tetapi akhirnya berbalik arah memperoleh hidayah.

Episode berikutnya ialah mengenai tata cara hidup muslim. Di sini orang-orang yang ‘tercerahkan’ itu berusaha sekuat tenaga menyangkakan ketidakberpihakan dan menuduhkan ketidakadilan syariah. “Mengapa hanya wanita yang dituntut menutup seluruh tubuhnya? Intinya kan kaum laki-laki (yang) harus menundukkan pandangan,” cuit sebagian mereka.

Di status media sosial atau bahkan kolom surat kabar harian terkemuka kita juga bisa membaca, misalnya, “Mengapa perempuan tidak boleh mengimami shalat laki-laki? Padahal bisa saja si perempuan lebih alim dan fasih bacaannya”.

Sequel ketiga dari trilogi D3 ialah tentang pribadi ulama. Terhadap sosok waratsat al-anbiya’ ini berbagai cacian, stigmatisasi, dan usaha pengerdilan peran mereka gencar dilakukan. Sasarannya ialah agar ummat tak lagi mendengar nasihat dari benteng moralitas ini. Dengan demikian, domba-domba yang malang (ummat yang awam) itu menjadi tercerai berai. Dan di sanalah para serigala telah mengintai dan siap menerkam!

Itulah sekelumit gambaran tentang limbah D3, yakni: desakralisasi wahyu, dekonstruksi syariat, dan delegitimasi ulama. Limbah-limbah ini sebenarnya bukan berasal dari aktivitas ummat di tanah air. Bukan. Ia berasal dari ‘negeri’ lain, dan awalnya hanya teronggok di negeri asalnya.

Namun celaka, banyak ‘wisman’ yang kemudian membuangnya kemari secara tidak bertanggung jawab seraya menikmati keindahan alam dan keramahan masyarakat nusantara. Tetapi yang lebih merusak adalah sebagian warga negara kita sendiri justru mengimpornya!

Kini limbah D3 itu telah meningkat stadiumnya menjadi D4. Ya, demoralisasi ummat telah menampakkan hasilnya di banyak tempat. Para mujahid dakwah telah berkali-kali meneriakkan informasi maha penting yang mestinya menjadi keprihatinan kita bersama. Hal yang sejak lama dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW kini terjadi, yaitu saling mencaci sesama muslim, padahal itu salah satu ciri orang fasik.

Di kesempatan lain sang Nabi –Kekasih Allah– SAW dengan nada tinggi memperingatkan, “Jika sesama ummatku telah saling mencaci, niscaya jatuh (hina)lah mereka dalam pandangan Allah”. Dan dalam perspektif pergaulan internasional, ummat menjadi seakan tak lagi memiliki dignity dan harga diri. Benarlah Rasul SAW mengumpamakannya sebagai buih di lautan, atau seperti daging bangkai yang siap dicabik-cabik kawanan serigala dan singa.

Prihatin, what next? Mulailah dari diri sendiri. Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Api neraka itu, miniaturnya, telah menyengat banyak orang di dunia ini! Ada sebagian orang yang ngeles, “Jadi orang gak perlu segitunya parno (paranoid) kalee”. Memang kita mungkin tidak harus risau oleh pertarungan abadi antara haq dan bathil. Itu sunnatullah. Tetapi sungguhnbencana besar bila kita sudah tak bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil itu.

Pastikan seluruh anggota keluarga kita melaksanakan ajaran agama dengan semangat sami’na wa atha’na. Itulah sikap mukmin sejati. Adapun orang-orang munafiq dan fasiq, niscaya berkata “sami’na wa ‘ashaina”. Ngeles dan lempar batu sembunyi tangan adalah siasat mereka. Bahkan, belakangan kita juga direpotkan dengan ulah sekelompok orang yang licik bersenjata taqiyah.

Hal lain yang kita terus perlu diingatkan ialah masalah toleransi antarpemeluk agama-agama. Misalnya tentang ‘solidaritas’ ummat muslim dalam kegembiraan kaum Nasrani merayakan hari raya mereka Natal. Berbagai argumen bisa saja dikemukakan untuk membela pendapat bahwa hal itu mestinya tak mengapa karena takkan melunturkan iman atau menjadikan kita murtad.

Selain berpegang kepada dalil naqli, semestinya dalam hal ini kita juga menyelami biografi para al-salaf al-shalihin, terutama pendirian dan sikap mereka. Selanjutnya dengarkan pula jeritan hati para ulama dan aktivis dakwah terkini semisal Buya Hamka. Untuk apa? Agar kita bisa benar-benar memahami maksud toleransi. Juga agar kita berempati!

Masalah lingkungan hidup telah ditangani oleh sebuah kementerian, juga disokong oleh berbagai NGO. Lalu instansi dan pihak manakah gerangan yang mau dan mampu memikul tugas dan amanat rehumanisasi sebagian manusia yang telah lama mengalami dehunanisasi ini? Sedangkan kementerian agama, konon kabarnya, tidak boleh mengintervensi kehidupan beragama ummat. Itu bukan tupoksinya.

Negeri kita tercinta ini dasar negaranya Pancasila, dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Tetapi seringkali kita dengarkan orang berargumentasi, “Ini bukan urusan agama”. Atau, “Jangan bawa-bawa agama dalam masalah ini”. Lebih tepatnya hemat saya adalah, “Ini bukan sekadar masalah agama”.

Kita patut khawatir mazhab bukan-bukan akan menyeruak di tengah-tengah bangsa yang religius ini. Sekte abu-abu ini –berdasar pengalaman empiris historis– senantiasa menjadi musuh setiap agama, khususnya Islam.

Produk pemikiran mazhab rasionalisme (sekularisme, pluralisme dan liberalisme) sekilas memang lebih mudah diterima akal. Tetapi harus diingat tidak semua urusan agama (Islam) bisa dirasionalkan, terlebih ranah ibadah mahdhah. Rasionalisasi dimaksud juga ada kaidahnya, antara lain “Al-qiyasu ma’a al-fariqi bathil”.

Di dalam Islam dikenal ajaran yang berkategori ma ‘ulima min al-dini bi al-dharurah. Biasanya dalilnya pun sharih dan muhkam, tidak mutasyabih apalagi multitafsir. Celakanya, justru di wilayah inilah mereka bermain-main dan memancing konfrontasi. Lebih daripada itu, terhadap hal-hal yang mukhtalaf fiha pun bukan berarti orang boleh menjadikannya amunisi dan pembenar untuk menggebuk sesama muslim dengan adagium pendapat orang lain pasti salah.

Ada ucapan Imam Ali bin Abi Thalib RA yang sangat menohok, sebagaimana dikutip dalam kitab Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid karya Ibn Rusyd, “Law kana al-dinu bi al-ra’yi lakana asfalu al-khuffi awla bi al-mashi min a’laha”.

Di masa liburan semester ganjil atau akhir tahun masehi ini mari kita gunakan waktu antara lain untuk membaca buku. Ada buku yang menurut hemat saya penting sekaligus enak dibaca, ialah novel ‘KEMI’ karya Dr. H. Adian Husaini, ada 2 jilid/sequel. Novel lain ialah ‘ECONOM’ buah tulisan Dr. H. Hendri Tanjung dan Irfan Azizi.

In uridu illa al-islaha ma istaha’tu, wa ma tawfiqi illa billah. Wallahu a’lamu bi al-shawab. <mufti_aw@yahoo.com>

Tentang Kami

Darunnajah menyelenggarakan lembaga pendidikan yang lengkap dari tingkat Paud, TK, SD, SMP, SMA, SMK, Pesantren sampai Perguruan Tinggi. Berikut ini kami sampaikan brosur berisi informasi profil lembaga, pendaftaran, biaya, lokasi, nomor kontak, fasilitas, kegiatan, prestasi, dan informasi-informasi penting lainnya. → Klik disini

Punya Pertanyaan?

Kami siap membantu anda. Sampaikan pertanyaan, saran dan masukan anda kepada kami. Silahkan isi form kontak yang telah kami sediakan. Klik pada link berikut ini → Klik disini

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor menyelenggarakan pendidikan Pesantren Modern untuk santri putra dan putri mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, MTs (Tsanawiyah), MA (Aliyah), SMP, SMA, SMK sampai Perguruan Tinggi. Pesantren ini memadukan kurikulum Pondok Modern Gontor, Nasional dan Salaf. Darunnajah Cipining menyediakan banyak beasiswa untuk santri berprestasi dan santri tahfidz Al-Qur'an. Kegiatan santri antara lain: Shalat berjamaah 5 waktu, mengaji Al-Qur'an, menghafal Al-Qur'an (tahfidz), percakapan bahasa arab dan inggris, latihan organisasi, latihan pidato, olah raga, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, silat, jurnalistik, drum band, dll. Kampus Darunnajah Cipining berada di atas lahan seluas 170 hektare, di Cigudeg Bogor Jawa Barat. Dengan pemandangan alamnya yang sangat indah pesantren ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti mini market, asrama, koperasi, guest house (penginapan), lapangan olahraga, sekolah, perkantoran, laboratorium, komputer, internet, dll.