Allah swt berfirman dalam Al Qur’an surat Al-Hasyr: 18

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Dalam ayat tersebut Allah swt menegaskan bagi manusia yang beriman, bagi mereka yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat untuk bertakwa kepada Allah, menjauhi semua laranganNya dan menjalankan setiap perintahNya. Serta untuk memperhatikan dan memperbanyak amal kebaikan untuk hari kemudian atau kehidupan di akhirat.

Di ayat berikutnya yaitu surat Al-Hasyr ayat 19, Allah memperingatkan kembali agar hambaNya yang beriman untuk tidak lalai atau lupa kepada Allah.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya: ”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang orang yang fasik”. (QS. Al-Hasyr: 19)

Kedua ayat diatas menjelaskan bahwa manusia yang meriman harus senantiasa berusaha menjaga ketakwaan nya kepada Allah swt, berusaha untuk menyiapkan bekal untuk hari kemudian (hari kiamat) dengan menjaga diri dari kelalaian dalam beribadah.

Manusia memang tempatnya lupa dan salah namun bukan berarti menjadi alasan untuk selalu berbuat khilaf, melainkan semboyan tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan manusia yang beriman dalam beramal shaleh.

Berupaya meningkatkan kualitas ketakwaan bagi setiap muslim merupakan sebuah kewajiban, senantiasa menjaga berbagai amalan yang wajib, di susul dengan mendawamkan sunnah sunnah Rasulullah saw adalah salah satu bentuk sifat seorang muslim yang taat.

Sayang nya ada saja mereka yang mengaku beriman, yang mengklaim telah mengucapkan dua kalimat syahadat namun tidak menjaga keimanannya, mereka asyik dengan hura hura dunia yang sia sia, merekalah orang yang lalai, lalai bahwa hidup di dunia hanya sementara, lalai dunia hanya tempat singgah, lalai akan tujuan sesungguhnya hidup di dunia, lalai bahwa setelah kehidupan didunia yang fana ini ada kehidupan di akhirat yang kekal selama lamanya.

Apa yang mereka lakukan sama seperti orang orang kafir yang tidak beriman kepada Allah yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama, mereka jadikan dunia sebagai tempat bersenang senang, padahal mereka sudah di beri peningatan dalam Al Qur’an surat Muhammad ayat 12.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

Artinya: ”Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka”. (QS. Muhammad: 12)

Mereka yang lalai diibaratkan seperti binatang yang hidupnya hanya untuk makan, minum, tidur dan bersenang-senang. Apa yang menyebabkan seseorang berada dalam keadaan lalai? Diantaranya adalah:

1. Cinta Dunia
Seseorang yang sudah mencintai sesuatu akan bertindak diluar akal kendali, sebagai contoh yang sering kita rasa, disaat kita mencintai seseorang tentunya kita akan berbuat apa saja untuk orang yang kita cintai, meski terkadang diluar kemampuan kita, namun segala cara kita lakukan untuk membahagiakan orang yang kita cintai.

Hal tersebut berlaku untuk orang yang cinta dunia, mereka akan melakukan apa saja agar mendapatkan apa yang di inginkan, agar mereka hidup bahagia di dunia.
Sayangnya, dalam mencari kebahagiaan di dunia tidak semua mengikuti prosedur yang ada, mereka buta mata dan buta hati melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang di inginkan, nurani mereka terhasut cinta dunia. Yang akhirnya mereka lalai akan kewajiban kepada Sang Maha Kuasa, juga lalai akan hidupnya sendiri.

2. Mati dalam berbuat dosa.
Mungkin kita pernah bahkan sering menjumpai orang orang yang mengatakan, ”ah ini cuma dosa kecil tidak apa apa di lakukan nanti Taubat juga di hapuskan” atau ungkapan sejenisnya.

Kita perlu yakini bahwa yang namanya dosa, baik besar atau kecil hal tersebut tidak boleh untuk di lakukan, selain akan merugikan diri sendiri hal tersebut juga telah merusak iman kita.

Dengan menyepelekan dosa dosa kecil, maka akan membuat seseorang lalai dalam berbuat dosa, yang kemudian akan menjadi kebiasaan dalam berbuat dosa, yang akhirnya ia tidak akan mengindahkan mana dosa kecil mana dosa besar, karena hatinya telah mati terhadap dosa.

3. Waktu dihabiskan untuk besenang-senang
Beruntung bagi mereka yang mempunyai hobi dalam melakukan kebaikan, baca Al Qur’an, bersedekah, membantu orang tua dan sejenisnya.

Berbeda bagi mereka yang memiliki hobi yang sia sia. Seperti di era digital ini, banyak dari kita yang disibukan dengan HP atau smartphone, yang didalamnya memiliki bermacam macam aplikasi dan fungsi, bahkan ada yang menjadikan bermain HP (Game) sebagai hobi yang menjadikan mereka lalai akan kewajiban kewajiban nya.

4. Sibuk dengan hal yang mubah
Perkara mubah atau boleh memang boleh dilakukan, seperti makan, minum, bicara dan sejenisnya.

Namun bila perkara tersebut dilakukan berlebihan maka akan menjadi tidak baik. Contohnya berbicara atau ngobrol yang sering kita lakukan, bila yang kita obrolan adalah perkara haram maka menjadi dosa. Contoh lain bila kita ngobrol bukan perkara haram namun mengakibatkan kita melewatkan kewajiban kita, maka kita tergolong orang yang lalai.

5. Berteman dengan orang orang lalai
Yang kelima atau terakhir dari tulisan ini adalah berteman dengan orang-orang lalai. Sudah barang pasti bila kita berteman dengan orang lalai kita akan terjerumus dalam kelalaian pula.

Namun, bila kita mempunyai iman yang kuat kita bisa mengajak mereka keluar dari kelalaian.

Bila kita berada dalam kelalaian apa yang harus kita lakukan untuk keluar dari kelalaian tersebut?

Mereka yang lalai tidak akan mau melakukan hal hal yang baik, seperti mendatangi Majlis Ilmu, berdzikir, berdo’a dan amal shaleh lainnya.

Oleh karena itu seseorang yang terjerumus dalam kelalaian harus membiasakan hal hal baik tersebut :
1. Mendatangi dan khusuk dalam Majlis Ilmu
2. Memperbanyak berdo’a dan berdzikir
3. Membiasakan shalat sunnah
4. Bertadabbur dengan keadaan disekitar kita, seperti merenungi kematian yang ada disekeliling kita, untuk mengingat kematian
5. Sering sering mengingat surga dan neraka.

Semoga kita semua dijauhkan dari kelalaian dan terus istiqomah taat dalam beribadah. Aamiin

(red/Aa)

Tentang Kami

Darunnajah menyelenggarakan lembaga pendidikan yang lengkap dari tingkat Paud, TK, SD, SMP, SMA, SMK, Pesantren sampai Perguruan Tinggi. Berikut ini kami sampaikan brosur berisi informasi profil lembaga, pendaftaran, biaya, lokasi, nomor kontak, fasilitas, kegiatan, prestasi, dan informasi-informasi penting lainnya. → Klik disini

Punya Pertanyaan?

Kami siap membantu anda. Sampaikan pertanyaan, saran dan masukan anda kepada kami. Silahkan isi form kontak yang telah kami sediakan. Klik pada link berikut ini → Klik disini

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor menyelenggarakan pendidikan Pesantren Modern untuk santri putra dan putri mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, MTs (Tsanawiyah), MA (Aliyah), SMP, SMA, SMK sampai Perguruan Tinggi. Pesantren ini memadukan kurikulum Pondok Modern Gontor, Nasional dan Salaf. Darunnajah Cipining menyediakan banyak beasiswa untuk santri berprestasi dan santri tahfidz Al-Qur'an. Kegiatan santri antara lain: Shalat berjamaah 5 waktu, mengaji Al-Qur'an, menghafal Al-Qur'an (tahfidz), percakapan bahasa arab dan inggris, latihan organisasi, latihan pidato, olah raga, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, silat, jurnalistik, drum band, dll. Kampus Darunnajah Cipining berada di atas lahan seluas 170 hektare, di Cigudeg Bogor Jawa Barat. Dengan pemandangan alamnya yang sangat indah pesantren ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti mini market, asrama, koperasi, guest house (penginapan), lapangan olahraga, sekolah, perkantoran, laboratorium, komputer, internet, dll.