Tulisan berikut ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Keutamaan Zakat, Infaq Dan Shadaqah”

Di dalam ibadah puasa ada juga shadaqah fitrah atau zakat fitrah. Ini juga supaya kita lanjutkan. Ya tentunya bukan shadaqah fitrah lagi, karena fitrah itu kita lakukan hanya setahun sekali. Setiap hari ada dua malaikat yang turun ke bumi. Malaikat itu berdoa,

اللهم أعط منفقا خلفا

“Ya Allah, berikan orang yang mengeluarkan uangnya, orang yang shadaqah ini, ganti.”

- Advertisement-

Tetapi ketika melihat orang lain yang mempunyai harta, tapi tidak mau shadaqah, ia berdoa,

اللهم أعط ممسكا تلفا

“Ya Allah berikan orang yang pelit, orang yang menahan diri, hancur.”

Hendaknya kita takut akan hal ini. Kita jangan punya sifat pelit, sifat bakhil, karena bukan saja tidak apa-apa, tapi malah didoakan malaikat supaya dihancurkan oleh Allah, na’udzu billah. Maka shadaqah itu bisa menjadi tolak bala. Ketika Allah menurunkan bala, misalnya, dalam satu mobil yang lain mungkin bisa tergencet dan mati, tapi orang yang banyak melakukan shadaqah akan selamat. Ketika terjadi gempa dan sebagainya sehingga semua rumah runtuh, saat orang lain belum ditolong, dia yang banyak melakukan shadaqah sudah ditolong duluan dan tidak mati. Jadi ternyata shadaqah itu bisa sebagai tolak bala. Kita perlu setiap hari tolak balak. Nah, shadaqah apa ini? Yang namanya shadaqah itu tidak hanya berupa harta benda. Yang namanya shadaqah bisa saja shadaqah perbuatan, bisa shadaqah ucapan, bisa juga shadaqah harta benda. Ketika kita punya uang, kita berikan orang. Itu namanya shadaqah harta benda.

Saat kita di rumah masak banyak yang kira-kira cukup untuk keluarga kemudian diberikan tetangga, itu berarti kita shadaqah harta benda. Ketika kita di rumah tempatnya kotor, kemudian kita sapu, kita bersihkan, itu namanya shadaqah perbuatan/pekerjaan. Di jalan kita melihat ada paku yang dapat membuat ban motor bocor atau mungkin akan diinjak anak kecil, kita ambil kemudian kita buang ke tempat yang aman, itu namanya shadaqah perbuatan. Shadaqah ini luas sekali. Tidak hanya harta benda. Shadaqah ini bisa shadaqah dalam bentuk perbuatan, dan bisa pula shadaqah dalam bentuk ucapan.

Kita jangan pelit. Maksudnya pelit itu bukan hanya pelit harta benda. Ketika ada orang kesulitan, kita tidak mau membantu, padahal kita punya tenaga, itu namanya pelit tenaga. Kita tahu, orang lain bertanya kita tidak mau menjawab apa yang kita ketahui, itu namanya pelit dalam ilmu, dan lain sebagainya. Orang yang pelit seperti itu akan didoakan oleh malaikat, “Ya Allah, jadikanlah orang ini hancur. Ya Allah, berikanlah kehancuran kepada orang ini.” Maka kita harus berbuat sebaik-baiknya di dalam hidup ini. Kita tidak boleh pelit, tidak boleh bakhil. Kita harus lakukan apa saja yang bisa kita lakukan.

Di Madura ada nenek-nenek yang nangis tidak ada habis-habisnya gara-gara ia suka membersihkan sampah. Tapi saat itu sudah bersih semua, tidak ada yang bisa dibersihkan. Setiap ia datang, sudah rapi, sudah bersih. Ia hanya menangis, “Saya tidak bisa shadaqah lagi seperti tadinya.” Itu shadaqah tenaga, shadaqah ucapan, dan sebagainya. Maka mari kita tingkatkan.

Dari shadaqah ucapannya kita banyak-banyak berdzikir. Setiap ada kesempatan kita bacalah dzikir. Dzikir apa, ustadz? Membaca al-Quran itu juga dzikir. Dan itu merupakan shadaqah lisan. Kita membaca tahlih, tasbih, atau shalawat juga termasuk dzikir. Ini supaya kita jangan termasuk kategori orang yang pelit. Orang yang malas itu sebenarnya orang yang pelit. Kita semuanya sebenarnya masih tergolong orang yang pelit. Kita ini masih bakhil.

Di dalam shadaqah tadi, kita jangan memberikan makna shadaqah hanya dalam bentuk harta. Setelah ngaji ini, tolong pahami bahwa shadaqah itu bisa dalam bentuk ucapan, perbuatan, ataupun harta benda. Kalau kita tidak bisa shadaqah dengan harta benda, shadaqahlah dengan perbuatan. Kalau kita juga lemah dalam perbuatan, seperti orang sakit, orang yang sakit itu bisa apa? Mau berdiri shalat saja tidak bisa. Mau shadaqah uang juga, namanya orang sakit, tidak bisa apa-apa, lagi perlu banyak uang. Maka masih bisa shadaqah. Shadaqahnya apa? Shadaqah ucapan. Orang sakit sebenarnya pahalanya besar kalau ia selalu berdzikir.

Saat kita sakit, sakit itu bisa akan menghapuskan dosa kita kalau dalam sakit itu kita; kewajiban kita tidak ditinggalkan. Kita malah lebih banyak untuk dzikir. Yang biasanya sibuk bekerja ke sana kemari tidak sempat dzikir. Ketika sakit, tidak ke mana-mana. Nah, punya kesempatan untuk dzikir. Kalau lagi sehat seperti ini bukan dzikir yang ada. Ketemu orang, ngomongin orang. Tetapi ketika sakit, mau ngomong apa? Tidak ada pekerjaan lain kecuali dzikir. Dzikir yang paling utama adalah mengucapkan “lailahaillallah”. Bahkan kita berharap dalam dzikir itu saat kita membaca “lailahaillallah” kita mati. Kalau kita mati ketika membaca “lailahaillallah”, dijamin masuk surga. Maka dari itu kita biasakan berdzikir sehingga dalam kondisi apapun kita akan sadar mengucapkan “lailahaillallah”. Ketika kita naik mobil kemudian mobil tersebut tubrukan, kita mengucapkan “lailahaillallah”. Kalau mati, kita masuk surga. Ucapan seperti itu akan muncul dengan sendirinya kalau kita sudah terbiasa. Itu namanya reflek, spontan. Tapi kalau orang yang membiasakan dzikir “lailahaillallah” dan sebagainya, maka akan cepat mengucapkan, “Innalillahi.”, “Lailahaillallah.”, “Astaghfirullah.”, atau “Allahu akbar.” Biasanya yang akan keluar seperti itu, bagaimana kebiasaan kita. Kita biasakan baca yang baik sehingga kita selalu ingat.

Shadaqah ini ternyata tidak hanya sepuluh kali lipat Allah berikan balasan kepada kita. Allah bisa memberikan sampai tujuh ratus kali lipat. Dan kadang-kadang sudah tidak shadaqah lagi masih saja Allah berikan. Shadaqah macam apa yang bisa sampai tujuh ratus kali lipat? Shadaqah-shadaqah yang untuk sabilillah. Apakah shadaqah sabilillah hanya berupa uang? Apakah bisa shadaqah sabilillah ini dalam bentuk tenaga, perbuatan, atau dalam bentuk ucapan? Bisa. Jadi tidak hanya dalam bentuk harta benda.

Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Keutamaan Zakat, Infaq Dan Shadaqah”

Tentang Kami

Darunnajah menyelenggarakan lembaga pendidikan yang lengkap dari tingkat Paud, TK, SD, SMP, SMA, SMK, Pesantren sampai Perguruan Tinggi. Berikut ini kami sampaikan brosur berisi informasi profil lembaga, pendaftaran, biaya, lokasi, nomor kontak, fasilitas, kegiatan, prestasi, dan informasi-informasi penting lainnya. → Klik disini

Punya Pertanyaan?

Kami siap membantu anda. Sampaikan pertanyaan, saran dan masukan anda kepada kami. Silahkan isi form kontak yang telah kami sediakan. Klik pada link berikut ini → Klik disini

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor menyelenggarakan pendidikan Pesantren Modern untuk santri putra dan putri mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, MTs (Tsanawiyah), MA (Aliyah), SMP, SMA, SMK sampai Perguruan Tinggi. Pesantren ini memadukan kurikulum Pondok Modern Gontor, Nasional dan Salaf. Darunnajah Cipining menyediakan banyak beasiswa untuk santri berprestasi dan santri tahfidz Al-Qur'an. Kegiatan santri antara lain: Shalat berjamaah 5 waktu, mengaji Al-Qur'an, menghafal Al-Qur'an (tahfidz), percakapan bahasa arab dan inggris, latihan organisasi, latihan pidato, olah raga, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, silat, jurnalistik, drum band, dll. Kampus Darunnajah Cipining berada di atas lahan seluas 170 hektare, di Cigudeg Bogor Jawa Barat. Dengan pemandangan alamnya yang sangat indah pesantren ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti mini market, asrama, koperasi, guest house (penginapan), lapangan olahraga, sekolah, perkantoran, laboratorium, komputer, internet, dll.