Apa Pengertian Keteladanan Dalam Agama Islam?

Keteladanan Dapat Kita Contoh Pada Diri Seorang Guru
Keteladanan Dapat Kita Contoh Pada Diri Seorang Guru

Keteladanan berasal dari kata “teladan” yang berarti sesuatu atau prilaku yang patut ditiru atau di contoh. Jika dalam bahasa arab biasa disebut dengan “uswatun hasanah” yang berarti cara hidup yang di ridhoi oleh Allah SWT. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan telah diikuti oleh Nabi Ibrahim a.s serta para pengikutnya.

Jadi yang dimaksud dengan keteladanan dalam artian “uswatun hasanah” adalah suatu cara mendidik, membimbing dengan menggunakan contoh yang baik yang diridhoi oleh Allah SWT sebagaimana yang telah dicerminkan oleh prilaku Rasulullah SAW dalam bermasyarakat dan bernegara.

Metode Pendidikan Dalam Islam

Metode pendidikan islam dan penerapannya banyak yang mengandung wawasan keilmuan yang sumbernya berada didalam Al-Qur’an dan Hadits. Penentuan macam metode atau tehnik yang dipakai dalam mengajar dapat diperoleh pada cara-cara pendidikan yang terdapat di dalam Al-Qur’an, Hadits, maupun amalan-amalan as-sholeh dari sahabat-sahabat dan pengikutnya.

Dalam Al-Qur’an banyak mengandung metode pendidikan yang dapat menyentuh perasaan , mendidik jiwa dan membangkitkan semangat. Metode tersebut dapat menggugah puluhan ribu kaum muslimin untuk membuka hati manusia agar dapat menerima petunjuk Ilahi dan kebudayaan Islam. Diantara metode- metode itu yang paling penting dan yang paling menonjol adalah:

  1. Mendidik dengan hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi.
  2. Mendidik dengan kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi.
  3. Mendidik dengan permisalan Qur’ani dan Nabawi.
  4. Mendidik dengan memberi teladan.
  5. Mendidik dengan mengambil pelajaran dan peringatan.
  6. Mendidik dengan membuat senang dan takut.

Mendidik Dengan Memberi Keteladanan

Adapun mendidik dengan memberi keteladanan memiliki dasar sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an yang menerangkan dasar-dasar pendidikan, antara lain:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرا

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan hari akhir dan dia banyak mengingat Allah.”

(Q.S.Al-Ahzab:21)

Ayat diatas sering dijadikan bukti adanya keteladanan dalam pendidikan. Keteladanan ini dianggap penting, karena aspek agama yang terpenting ialah akhlak yang terwujud dengan tingkah laku.

Manusia Butuh Teladan

Secara psikologis manusia butuh akan teladan (peniruan)yang lahir dalam naluri dan bersemayam dalam jiwa yang disebut juga dengan taqlid. Yang dimaksud tiruan disini adalah hasrat yang mendorong anak . seseorang untuk meniru orang dewasa, atau orang yang mempunyai pengaruh. Misalnya anak dari kecil belajar berbicara, berjalan dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Pada dasarnya peniruan itu memiliki 3 unsur, yaitu:

  1. Keinginan atau dorongan untuk meniru.
  2. Kesiapan unruk meniru.
  3. Tujuan meniru.

Keinginan atau Dorongan Untuk Meniru

Pada diri anak atau pemuda ada keinginan halus untuk meniru orang yang dikagumi (idola) dalam bicara, gaul, tingkah laku bahkan gaya hidup mereka sehari-hari tanpa disengaja. Peniruan semacam ini tidak hanya terarah pada tingkah laku yang baik saja, akan tetapi juga mengarah pada tingkah laku yang kurang baik juga. Misalnya seorang anak mengidolakan pemain tinju, lalu mereka ingin kuat dan gagah seperti idolanya yang sering mereka lihat di salah satu siaran TV swasta, banyak anak menjadi korban. Mulai cedera, patah tulang, hingga ada yang meninggal. Oleh karena itu orangtua, pendidik, pembimbing, pemimpin dituntut untuk selalu menjadi panutan bagi anak-anaknya atau bahkan orang-orang disekitarnya. Seperti yang terdapat pada firman Allah SWT :

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلاَ (67) رَبَّنَا ءَاتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (68

Yang artinya: “Dan mereka berkata:  ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami timpakanlah azab kepada mereka dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab: 67-68)

Kesiapan Untuk Meniru

Setiap tahapan usia mempunyai kesiapan dan potensi untuk meniru. Karena itu dalam islam tidak mewajibkan anak kecil untuk melaksanakan sholat sebelum mencapai usia 7 tahun(baligh), tetapi tidak melarang anak untuk meniru gerakan-gerakan atau bacaan-bacaan yang ada di dalam sholat. Dalam Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Ayat yang menerangkan ini ialah:

لاَ يُكَلِّفُ الله نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَت

“ Allah tidak akan membebani seseorang lebih dari kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapatkan siksa dari kejahatan yang dikerjakannya.” (Q.S. Al-Baqoroh:286)

Tujuan Untuk Meniru

Setiap peniruan pasti memiliki tujuan. Seperti peniruan seseorang dalam mencapai perlindungan dari orang yang dipandangnya lebih kuat. Dengan tujuan agar dapat memiliki kekuatan yang dimiliki orang tersebut. Sesuai dengan firman Allah SWT:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى الله عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ الله وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“katakanlah: inilah jalan agamaku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan hujjah yang nyata, maha suci Allah, dan aku tidak termasuk kepada orang-orang yang musyrik.” (Q.S. Yusuf:108)

Keteladanan Dalam Pendidikan

Dalam pendidikan Islam konsep keteladanan yang dapat dijadikan sebagai cermin dan model dalam pembentukan kepribadian seorang muslim adalah ketauladanan  yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mampu mengekspresikan kebenaran, kebajikan, kelurusan dan ketinggian pada akhlaknya. Bila ada hal yang menyenangkan beliau hanya tersenyum. Jika menghadapi sesuatu yang menyedihkan, beliau menyembunyikannya serta menahan amarah.

Metode Yang Berpengaruh Terhadap Akal

  1. Kisah atau cerita.
  2. Dialog dan rasionalisasi.
  3. Pengamalan praktis.
  4. Berbicara langsung.
  5. Perumpamaan.
Arti Penting Keteladanan Seorang Guru

Di dalam proses pembelajaran, seorang pendidik memiliki peran penting dalam mensukseskan keberhasilan dalam pembelajaran. Mendidik tidak hanya sekedar memenuhi persyaratan administrasi dalam proses pembelajaran, tetapi perlu totalitas. Kepribadian seorang guru sangatlah penting terutama didalam mempengaruhi kepribadian siswa. Karena guru memiliki status seseorang yang dianggap terhormat dan patut untuk di contoh. Selain itu, guru juga seorang pendidik. Pendidikan itu sendiri memiliki arti menumbuhkan kesadaran kedewasaan.

Dengan melatih mental kepemimpinan dapat kita contoh untuk menjadi suri tauladan yang baik.

Tentang Kami

Darunnajah menyelenggarakan lembaga pendidikan yang lengkap dari tingkat Paud, TK, SD, SMP, SMA, SMK, Pesantren sampai Perguruan Tinggi. Berikut ini kami sampaikan brosur berisi informasi profil lembaga, pendaftaran, biaya, lokasi, nomor kontak, fasilitas, kegiatan, prestasi, dan informasi-informasi penting lainnya. → Klik disini

Punya Pertanyaan?

Kami siap membantu anda. Sampaikan pertanyaan, saran dan masukan anda kepada kami. Silahkan isi form kontak yang telah kami sediakan. Klik pada link berikut ini → Klik disini

Pondok Pesantren Putri Al-Hasanah Darunnajah 9 Pamulang adalah Pondok Pesantren khusus putri pertama di Tangerang Selatan. Berlokasi di daerah Pamulang, Pesantren ini sangat strategis dan mudah dijangkau dari mana saja. Pondok Pesantren putri ini menyelenggarakan pendidikan Islam berasrama pada tingkat MTS (Tsanawiyah) dan Aliyah (MA).

Pondok Pesantren Putri Al-Hasanah merupakan lembaga pendidikan Islam terpadu, menggunakan sistem pendidikan berkualitas yang sudah diakui dunia. Pondok Pesantren Putri Al-Hasanah menyiapkan kader agama Islam dengan sistem Pondok Modern Gontor Ponorogo. Membentuk karakter santri dengan pengetahuan agama Islam, kemampuan dakwah serta keterampilan hidup (life skills).

Santri dididik shalat berjamaah 5 waktu, mengaji Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an (tahfidz), dan beragam kegiatan menarik seperti percakapan bahasa arab dan inggris, latihan organisasi, latihan pidato, olah raga, pramuka, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti silat, jurnalistik, marching band, dll. Kampus Al-Hasanah dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti asrama, koperasi, guest house (penginapan), lapangan olah raga, auditorium, sekolah, dan lain-lain.