Tulisan berikut ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh K.H.Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor pada Juli 2010.

بسم الله الرحمن الرحيم

- Advertisement-

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين ، أما بعد :

قال الله تعالى في كتابه الكريم : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم . وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (البينة : ٥)

وقال الله تعالى في كتابه الكريم : لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ ( الحج : ٣٧)

وقال أيضا : قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ( آل عمران : ٢٨) صدق الله العظيم

Ibu-ibu sekalian, alhamdulillah, pada pagi ini kita masih tetap bisa datang ke tempat ini untuk mengaji sekalipun teman-teman kita banyak yang tidak datang. Karena kita masih ingin mendapatkan pahala dari Allah Swt., ingin mendapatkan ridha Allah Swt. Sekalipun tidak ada yang datang, ibu datang insya Allah akan mendapatkan pahala dari Allah Swt. Maka kita harapkan segala sesuatu yang kita lakukan itu hendaknya karena kita ingin mendapatkan balasan dari Allah, berupa rahmat-Nya, berupa rizki, juga berupa keberkahan-keberkahan yang Allah berikan kepada kita. Sekalipun teman-teman banyak yang tidak datang kita tetap saja datang karena kita ingin itu. Sementara saudara-saudara kita yang lain barangkali sedang sibuk, ada keinginan-keinginan yang lain yang ingin mereka dapatkan. Misalnya, orang sibuk di sawah mencangkul karena ingin pertaniannya bagus. Dia di sawah memanen karena ingin panenannya bagus, tidak hilang, dan tidak tercecer di mana-mana. Karena itu ia mengurus hal itu. Kita yang tidak sibuk seperti itu, kita harapkan saja pahala dari Allah Swt. Yang lain mungkin ada yang berdagang, karena dia ingin mendapatkan keuntungan-keuntungan dari dagangannya. Mungkin ada juga yang sedang bepergian. Mungkin dalam bepergiannya itu ada sesuatu yang dituju; mungkin ingin bertemu dengan saudara-saudaranya di tempat lain yang sudah lama tidak jumpa atau mungkin juga pergi ke pasar karena ingin punya sesuatu yang ingin dibeli itu.

Kita, alhamdulillah, hari ini hanya bisa mengharapkan ridha Allah Swt. saja, rahmat dari Allah Swt. saja. Ini karena kita tidak sibuk kemana-mana. Karena itu kita harus bersyukur, ibu-ibu sekalian. Kita bersyukur bahwa yang kita harapkan adalah sesuatu yang besar, lebih besar daripada yang mereka dapatkan itu. Keuntungan dagang dan sebagainya tak seberapa. Keuntungan bertani pun tidak seberapa; keuntungan duniawi. Dan keuntungan duniawi itu tidak selamanya dapat. Sering saya contohkan, orang dagang dengan hitung-hitungannya yang sangat matang, modalnya sekian, ongkosnya sekian, dijual sekian, pasti untung sekian. Tapi, ternyata banyak orang yang beli, belinya ngutang, ditagih tidak mau bayar, ntar-ntar-ntar, lama-lama habis, untung apa? Ya, tidak dapat untung. Orang bertanam, sudah dipupuk, sudah diurus dengan segala macam, disiangi dan dibuangi rumputnya, dan sebagainya, tahu-tahu setelah lama kita harapkan buahnya, tidak berbuah. Bertanam duren tidak ada buahnya sama sekali, rambutan tidak ada buahnya sama sekali, mangga juga tidak ada buahnya sama sekali. Ini kalau harapannya hanya harapan duniawi saja, kerja seperti itu kadang-kadang tidak dapat hasil. Tetapi, kalau yang kita harapkan adalah balasan dari Allah Swt., pasti dapat. Kapan dapatnya? Allah Maha Tahu akan kebutuhan kita; bisa bulan berikutnya, bisa tahun berikutnya, bisa juga yang Allah berikan itu tidak seperti yang diharapkan itu. Misalnya, ibu ingin duren, berdoa terus-menerus, “Ya Allah, saya sudah lama sekali, sudah lima tahun tidak ketemu duren, kepingin duren.” Bisa saja yang Allah berikan itu bukan dalam bentuk duren, tapi Allah jadikan pisangnya subur-subur, kemudian ibu bisa menjualnya dan mendapatkan banyak uang. Ibu melihat duren di pasar. Nah, dari uang itu ibu bisa membeli duren.

Tiba-tiba di kebun ada orang mau beli pohon jinjing. “Itu mau diborong berapa?”, tanyanya. Ternyata satu pohon bisa diborong sampai lima juta. Ibu jalan-jalan ke pasar, lihat ada duren, ibu bisa membelinya. Karena doanya minta duren itu ibu bisa membeli. Jadi pasti dapat. Hanya saja memang adakalanya tidak pada saat itu, karena Allah Maha Tahu. Kalau diberikan saat itu, bisa repot dan sebagainya, Allah tahu itu, maka bisa saja pada waktu yang akan datang. Atau bisa saja kadang-kadang malah ada tamu, “Assalamu’alaikum,” sapanya. “Bawa apa itu?” “Ini lumayan,” Kita minta juga tidak, hanya banyak berdoa, ada orang datang membawa duren. Ini cara Allah di dalam memberikan, macam-macam caranya, tidak hanya satu saja. Maka kalau kita meminta,

فإذا سألت فاسأل الله

Kalau kita meminta, mintalah kepada Allah.

Pasti dapat kalau kita minta kepada Allah. Itu seperti orang bertanam. Misalnya, menanam padi di sawah. Padinya sudah diurusi, sudah diobati, sudah diairi, sudah dikontrol terus menerus, tahu-tahu giliran panen, diserang tikus, akhirnya tidak dapat. Tapi kalau kita mintanya kepada Allah Swt., mungkin padinya tidak bisa dipanen karena dimakan tikus, tapi Allah berikan dari sisi yang lain, mungkin dari sisi usaha dagangnya, mungkin dari sisi tanaman-tanamannya, atau juga mungkin dari sisi ternaknya; kambingnya beranak, subur semua, bisa dijual, ayamnya bertelur, ditetaskan, menetas sampai lima belas, besar-besar semua, bisa dijual. Cara Allah di dalam memberikan rizki itu macam-macam. Orang yang selalu memohon kepada Allah Swt. itu berbeda dengan orang yang tidak pernah memohon sama sekali. Orang-orang sekarang kadang pola pikirnya, “Mana ada orang tidak kerja bisa makan, dapat uang?” Kalau ingin mendapatkan uang, ya harus kerja. Kata-kata itu memang tidak salah. Kata-kata itu benar. Tapi untuk mendapatkan uang itu tidak selamanya harus dengan kerja. Tidak hanya dengan kerja kita dapat uang. Saya ini kadang-kadang berpikir, saya tidak berkerja, tapi kadang-kadang saya dapat uang untuk pesantren ini. Tiba-tiba ada orang datang memberikan sumbangan padahal saya tidak pernah mengedarkan list atau surat. Itu tidak pernah. Tiba-tiba ada orang datang, “Pak ini untuk bantu-bantu bangunan di sini,” Setelah dibuka, ternyata sepuluh juta. Kok gede banget! Saya tidak pernah meminta. Saya tidak pernah mengedarkan surat atau apa, tapi kok orang ngasih segitu banyaknya. Ada saja yang seperti itu. Jadi, tidak selamanya mencari duit itu dengan bekerja keras. Tapi dengan kerja keras, insya Allah dapat. Tapi ‘kan kadang-kadang juga tidak dapat. Maka di dalam al-Quran, Allah menjelaskan kepada kita :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ نَصِيب

Barangsiapa yang menginginkan keberuntungan/hasil akhirat, Allah akan tambahkan hasil yang dia capai itu. Dari hasil itu, Allah akan tambahkan lagi. Contoh, ibu bersedekah. Misalnya, ketika ibu bersedekah kalau yang diharapkan hanya balasan dari orang saja, saat ibu sadaqah, orang itu tidak membalas. Ibu sadaqah ke saya membawa pisang satu tandan, kemudian saya diharapkan membalas ibu. Jangan-jangan karena sibuknya saya tidak bisa membalas ke ibu. Bukan begitu? Kadang-kadang begitu. Kalau kita harapannya kepada Allah, ya saya sadaqah ini lillahi ta’ala, maka Allah nanti akan memberikan balasan dengan cara bermacam-macam itu. Dan balasannya itu,

نَزِدْ لَهُ

Allah berfirman, “Aku akan tambahkan.” Bagaimana tidak tambah, bu, setiap satu kebaikan yang kita lakukan oleh Allah diberikan sepuluh kebaikan, bahkan di sabilillah itu bukan hanya sepuluh, tapi sampai tujuh ratus kali. Ini yang harus kita pikirkan betul-betul. Dan kita harus percaya itu. Pesantren ini sudah mempraktekkan. Contoh, ibu sekalian, sejak pesantren ini berdiri dulu, saya sudah mencanangkan bahwa kalau ada sepuluh orang yang membayar, satu orang gratis. Ternyata apa yang terjadi? Allah berkahi pesantren ini. Kita membangun dan alhamdulillah saya tidak pernah mencari sumbangan keluar. Ya cukup, dicukupi saja oleh Allah Swt.

Tahun ini santri kita meningkat. Yang dari lingkungan berkurang, tetapi yang dari jauh-jauh malah meningkat. Tahun ini modelnya lain, yang dekat tidak tertarik, tapi yang jauh yang tertarik. Allah memberikan lain kali ini. Semua ada hikmahnya, bu. Kemarin tumben ada orang Jakarta Timur, forum komunikasi masjid-masjid di Jakarta Timur, dua bis datang ke sini, seratus orang laki-laki dan perempuan, ya seumur ibu-ibu, sudah tua-tua datang ke sini, ibu-ibu pengajian, bapak-bapak dari masjid-masjid se Jakarta Timur. Di sini datang. Dengar dari mana ya? Saya tidak pernah ceramah di Jakarta Timur. Saya juga tidak pernah kirim surat ke sana. Begitu melihat ke sini anak-anak itu bukan main senangnya. Mereka dikumpulkan di aula. Kita kumpulkan dan kita jelaskan di aula. “Ini sms terus ini, katanya terima kasih,” “Benar-benar mengesankan kunjungan kita. Sekalipun jauh, tapi kita senang rasanya.”

Inilah ibu-ibu sekalian. Jadi kita perbuat saja kebaikan itu. Kita tidak usah menimbang-nimbang rugi, karena berbuat baik itu ibaratnya kita menanam. Orang yang banyak menanam, insya Allah, panennya akan banyak juga. Tapi, kalo yang tidak pernah menanam, mau panen dari mana? Maka tanam saja, ibu tidak usah berpikir. Di dalam sadaqah, semakin besar ibu sadaqah akan semakin besar yang akan Allah berikan. Ini jangan ibu berpikir. “Ah, pahala-pahala. Pak kyai ngomongnya pahala melulu, pahala kan nanti di akhirat.” Tidak, bu. Di dunia ini juga, bu. Orang yang suka sadaqah akan disenangi oleh orang lain. Orang yang suka sadaqah itu juga akan mendapatkan balasan bermacam-macam dari orang lain. Mungkin usahanya lancar. Apalagi kita ini sadaqah sedangkan kita juga bertakwa. Itu akan ketemu. Orang-orang kafir saja sadaqah. China, kalo ibu-ibu belanja ke grosir, ‘kan ke grosir china, bukan grosir orang kita. Kenapa? Orang china kadang-kadang suka memberi murah, kadang-kadang memberi tambahan, dan sebagainya. Padahal ia bukan orang Islam. Mau datang, dipersilahkan duduk, diberikan minuman, diberikan teh, mungkin diberikan aqua, dulu ada fanta, nanti kadang-kadang ditambahin, sehingga dia itu menjadi disukai oleh orang banyak. Akhirnya dagangan dia menjadi laris. Karena apa? Karena kebaikan dia. Padahal dia bukan orang Islam. Bukan hanya orang Islam, kalau berbuat baik diberikan pahala oleh Allah seperti itu, dilipatgandakan. Akhirnya ibu yang belanja ke tempat itu berbicara kepada orang lain, “Di situ aja. Dia orangnya baik.” Nah, ngomong. Yang satu ngomong lagi ke yang lain, ngomong lagi, ngomong lagi, akhirnya tersebar semua. Padahal orang-orang Islam juga banyak, tapi karena tidak mau berbuat baik, tidak mau sadaqah, akhirnya tidak ada yang datang. Betul tidak, bu? Iya kan bu? Pengalaman kita kan begitu? Ibu belanja ke Parung Panjang, ibu belanja ke Jasinga, ibu belanja ke Leuwiliang, bahkan mungkin ke Tangerang sana. Biarpun itu bukan orang Islam, orang china atau orang Kristen, kalau baik kepada kita, kita juga senang ke situ lagi, padahal jelas-jelas itu orang Kristen. “Kenapa ke situ?” Tidak bisa dilarang. Ia berbuat baik, sementara yang Islam tidak berbuat baik. Itu tidak bisa dilarang. “Kamu sama saja dengan menolong dia.” Dia berbuat baik. Bagaimana kalau yang berbuat baik itu orang yang beriman? Imannya kuat, rajin shalat, baik dengan semua orang, suka memberi, dan sebagainya, sudah pasti mereka akan kalah. Menimbang juga sampai mantap. “Wah, timbangannya mantap.” Ia menjadi senang. Inilah kadang-kadang kalau kita selalu mikir, “Waduh, kebanyakan. Nanti kalau tidak kebagian? Habis nanti jadinya kalau banyak-banyak.” Padahal dengan kita memberi, Allah juga akan memberi. Orang china saja, orang non-muslim saja, dia mau memberikan dalam belanja orang dengan kemudahan-kemudahan, dengan senyuman, dengan ramah, dengan kebaikan, bahkan juga dengan ditambah barang. Pada saat hari raya, tidak diminta, kita dikirimi parsel. Padahal tidak minta, lebaran dikirim. Bulan puasa kirim-kirim parsel, padahal kita tidak minta. Bagaimana kita tidak tertarik? Kita orang Islam yang tahu bahwa Allah akan memberikan balasan yang berlipat ganda seperti itu, mestinya jangan kalah dengan mereka. Bagaimana kita selalu memberi orang? Maka ibu-ibu sekalian di pesantren ini, saya bismillah, saya akan banyak memberi tapi bukan uang, karena saya tidak punya duit. Yang kita punya di sini adalah pendidikan. Bagaimana kita bisa memberi kepada orang-orang dalam bentuk pendidikan itu. Saya yakin bahwa nanti Allah akan memberikan balasan kepada kita dari sisi yang lain. Buktinya kita dari awal tadi sudah membebaskan anak-anak. Anak sepuluh ada satu yang kita bebaskan. Mau di pesantren ini sebagai anak asuh pesantren. Ternyata kita juga banyak pendapatan. Di kebun kita, alhamdulillah, kayunya subur. Ibu lihat hutan-hutan Darunnajah itu, sekarang mau membangun saja saya sudah tidak membeli kayu lagi. Mau membangun, tinggal potong sana. Untuk kusen, untuk balok, untuk rengnya, sudah ketemu. Saya tidak usah beli lagi. Sudah digesek di sini. Sebagian malah bisa saya jual. Bahkan dengan adanya hal itu, di dapur ini sekali makan anak-anak hanya membayar 1.500 saja. Coba kalau ibu duduk di warung, di restoran, kira-kira berapa ya? Bisa sampai sepuluhan ya? Katakanlah di Parung Panjang, di Lebak Wangi, mungkin paling rendah sekitar lima ribu. Berarti satu hari lima belas ribu. Kita di sini satu hari hanya empat ribu lima ratus. Apa mereka bayar segitu? Padahal seminggu sekali kita pakai ayam. Kita juga pakai ikan pindang, ikan pasar dan sebagainya, ya ada pecelnya, ya ada urapnya, ya ada oreknya, ada macam-macam seperti itu, ada gulainya. Kita bisa seperti itu. Bagaimana ini bisa? Ternyata Allah Swt. memberikan rizki dari sisi lain. Sejak pertama dahulu saya menanam kelapa. Sekarang kelapa sudah tidak perlu beli. Masak kelapa berapa saja tinggal ambil. Bahkan kita bisa menjual kelapa keluar. Ibu boleh membeli kelapa Darunnajah, karena kita kelebihan kelapa. Dari sisi yang lain kita juga ada nangka. Nangka muda, bisa dibikin sayur, dibikin gudeg, macem-macem lah. Sayur nangka enak, anak-anak senang juga. Kita menanam singkong. Kalau hari begini, puasa, dibikin combro, dibikin misro, kemudian dikasih anak-anak, mereka senang. Daunnya bisa untuk sayur. Pisangnya, alhamdulillah, bisa juga untuk kolak. Kadang-kadang dibagikan begitu saja. Pendeknya, kita sadaqah itu tidak usah pikir-pikir. Allah akan memberi balasan. Jadi, dengan anak-anak dibebaskan dari membayar makan, membayar sekolah, dan sebagainya, Allah memberikan ganti bukan dari orang tuanya yang kemudian memberi kepada kita. Bukan itu. Tapi ini, ini semua merupakan ganti yang – alhamdulillah – dalam bentuk lain. Kita membangun juga – alhamdulillah – lancar-lancar saja. Maka tahun ini saya mencoba-coba lagi. Saya akan memberikan beasiswa. Tidak usah membayar di sini. Mau makan tidak usah bayar. Tinggal di pesantren tidak usah bayar. Sekolah tidak usah bayar. Mau mengikuti kursus komputer, juga tidak usah bayar. Sakit? Di kesehatan kita juga ada obat-obatan tidak usah bayar. Asal mau menghafal al-Quran sambil sekolah. Banyak yang mendaftar, bu. Orang sini tidak ada, tetapi yang daftar dari Karawang, dari Cikampek, dari Garut, bahkan dari Makasar. Ada anak perempuan dari Makasar. Ia mau menghafal al-Quran dan sekolah di sini sampai selesai. Ada yang dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang berbatasan dengan Malaysia itu. Juga datang ke sini. Sampai berebut. “Ini yang putri yang tahsin saja ada 32 ditempatkan di mana, pak kyai?” “Coba pelajari kamar-kamar, ranjang-ranjang, masih ada yang kosong tidak? Kalau ada, sebarkan di situ.” Yang putra ada 38. Mereka mau menghafal al-Quran dan sekolah di sini. Coba ibu, nanti Allah akan memberikan apa kepada Darunnajah ini? Karena kita sudah pengalaman, saya tidak takut sama sekali karena saya sudah pengalaman sekian lama. Memang  bukan dari orang tuanya yang memberi kepada kita atau kita meminta pada PT-PT di sekitar kita. Tetapi, usaha-usaha kita ini dimudahkan oleh Allah Swt. Lewat situ kelihatannya. Kayu saja kalau saya lelang, barangkali sekitar lima puluh juta masuk. Kelapa tanam lagi. Luar biasa itu. Jadi, semakin mantap. Coba pengalaman Darunnajah di dalam mengamalkan agama ini ibu-ibu tiru. Bisa. Kita paksakan saja karena Allah nanti akan diganti. Kecuali kalau tidak diganti oleh Allah. Rugi, kalau kita memberi orang yang tidak ikhlas. Karena orang itu tidak akan membalas kita. Tetapi kalau kita ikhlas karena Allah, karena balasan dari Allah, pasti dapat, pasti, pasti, pasti, karena kita sudah mengalami. Akan tetapi, kalo kita memberi kepada orang, dengan harapan agar orang itu membalas kita, belum tentu dapat. Iya, kadang-kadang suka dapat sih, tapi kadang-kadang juga tidak dapat, kan bisa kecewa jadinya. Maka lebih baik karena Allah itu. Inilah ibu-ibu, maka orang-orang yang hanya mengharapkan hasil-hasil duniawi, maka

وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ نَصِيب

Allah menjelaskan bahwa nanti di akhirat orang tersebut sudah tidak ada bagiannya. Misalnya, orang mengajar. Mengajar ini sebenarnya amal kebaikan, yang diberikan pahala oleh Allah sepuluh kali lipat. Akan tetapi mengajar, dengan harapan hanya ingin mendapatkan gaji saja, maka bagaimana di akhiratnya? Tidak mendapatkan apa-apa. Jadi, di akhirat nanti sudah tidak mendapatkan apa-apa karena sudah diambil untuk gaji itu. Jadi rugi sebenarnya. Maka kalau mengajar itu adalah amal kebaikan, niati sajalah lillahi ta’ala, niati saja ingin pahala dari Allah Swt. Dunianya pasti sudah tidak usah diniati. Orang mengajar pasti akan dibayar oleh sekolah. Itu pasti. Tidak usah dipungkiri. Yang seperti itu tidak usah ragu-ragu. Tetapi, kalau hanya itu yang kita dapatkan, ya di akhiratnya nanti sudah pasti tidak mendapatkan apa-apa, maka rugi ibu-ibu sekalian. Itulah pentingnya. Maka marilah kita perbaiki amal perbuatan kita.

_____________________________________

Disampaikan Oleh K.H. Jamhari Abdul Jalal, Lc

Di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining.

Bogor, Juli 2010

Tentang Kami

Darunnajah menyelenggarakan lembaga pendidikan yang lengkap dari tingkat Paud, TK, SD, SMP, SMA, SMK, Pesantren sampai Perguruan Tinggi. Berikut ini kami sampaikan brosur berisi informasi profil lembaga, pendaftaran, biaya, lokasi, nomor kontak, fasilitas, kegiatan, prestasi, dan informasi-informasi penting lainnya. → Klik disini

Punya Pertanyaan?

Kami siap membantu anda. Sampaikan pertanyaan, saran dan masukan anda kepada kami. Silahkan isi form kontak yang telah kami sediakan. Klik pada link berikut ini → Klik disini

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor menyelenggarakan pendidikan Pesantren Modern untuk santri putra dan putri mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, MTs (Tsanawiyah), MA (Aliyah), SMP, SMA, SMK sampai Perguruan Tinggi. Pesantren ini memadukan kurikulum Pondok Modern Gontor, Nasional dan Salaf. Darunnajah Cipining menyediakan banyak beasiswa untuk santri berprestasi dan santri tahfidz Al-Qur'an. Kegiatan santri antara lain: Shalat berjamaah 5 waktu, mengaji Al-Qur'an, menghafal Al-Qur'an (tahfidz), percakapan bahasa arab dan inggris, latihan organisasi, latihan pidato, olah raga, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, silat, jurnalistik, drum band, dll. Kampus Darunnajah Cipining berada di atas lahan seluas 170 hektare, di Cigudeg Bogor Jawa Barat. Dengan pemandangan alamnya yang sangat indah pesantren ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti mini market, asrama, koperasi, guest house (penginapan), lapangan olahraga, sekolah, perkantoran, laboratorium, komputer, internet, dll.