Mengapa Harus Berkarya?

Imam Ghazali

Imam al-Ghazali, ulama muslim yang bergelar Hujjatul Islam, pernah berkata, “Bila kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah,” perkataan tersebut memang singkat, tapi memiliki makna yang begitu dalam. Melalui perkataan itu, Imam Ghazali mencoba menyiarkan kepada semua orang bahwa sudah sepatutnya bagi seseorang untuk dapat memberikan sumbangsih bagi sesama manusia selama kita hidup di dunia. Jika diperhatikan, ucapan tersebut juga bermakna sindiran. Dengan kata-kata itu, Imam Ghazali seakan-akan ingin menyadarkan kepada setiap orang bahwa hidup di dunia ini tidak akan ada artinya bila kita tidak meninggalkan apa-apa untuk para generasi penerus sepeninggal kita. Dengan sindiran itu, Beliau ingin mengajak semua orang untuk berjuang mewujudkan sebuah warisan yang dapat dinikmati para generasi penerus meski kita bukanlah keturunan raja atau ulama. Beliau memberikan sebuah solusi atau jalan yang dapat ditempuh jika kita ingin mewariskan sesuatu, tapi tidak memiliki kekayaan yang banyak. Jalan tersebut adalah dengan menulis.

Seperti yang diketahui, Imam Ghazali hanyalah anak dari seorang pemintal bulu kambing di Khurasan, Persia. Meski beliau berasal dari keluarga yang miskin, tapi sejarah membuktikan bahwa Beliau adalah orang yang sangat berpengaruh. Bahkan hingga hari ini, nama Beliau masih sering digaungkan di forum-forum diskusi maupun di tempat-tempat pengajian. Mengapa seseorang yang berasal dari keluarga miskin mampu dikenang bahkan hingga hari ini? Apa sebenarnya yang membuat nama Imam Ghazali mudah untuk diingat? Ya, karya-karya beliaulah yang membuat semua orang masih saja menyebut nama Beliau meski sudah wafat seribu tahun yang lalu.

Tahafutul Falasifah, Minhajul ‘Abidin, empat jilid Ihya’ Ulumuddin, Kimiya ‘As’saadah, Misykatul Anwar, hanyalah sedikit dari karya-karya karangan Imam Ghazali. Beliau berbicara hampir dalam segala bidang ilmu kehidupan; Pendidikan, Tasawuf, Filsafat, Fikih, serta Logika. Dari karya-karya tersebut, bukanlah sebuah keherenan jika sampai abad ini kitab-kitabnya masih sering digunakan dan dikaji di pesantren-pesantren maupun forum diskusi ilmiah dan pengajian rutin mingguan.

Fakta yang membuat nama seseorang abadi dan dikenang sepanjang masa sudah sepatutnya memantik semangat kita untuk bisa membuat sebuah karya, yang mana dengan karya tersebut kita mampu diingat oleh semua orang lintas generasi. Tidak mesti dalam bidang tulis-menulis, tapi dalam bidang lainnya seperti; Teknologi, Seni, Ilmu Pengetahuan, dan lain sebagainya. Namun, langkah pertama yang harus ditempuh untuk mencapai sesuatu yang bisa digunakan lintas generasi itu dimulai dari membaca. Terdengar sepele memang, tapi percayalah, dari kegiatan membacalah setiap perubahan, ide, penemuan, yang telah dan yang sedang berjalan di dunia ini berasal.

Mengapa Harus Membaca?

Mengapa harus membaca?

Banyak yang mengatakan, kegiatan membaca adalah sebuah aktivitas untuk membuka jendela dunia. Membaca adalah salah satu usaha untuk menambah wawasan dan pengetahuan seseorang tentang hal-hal di luar sana yang belum pernah ditemukan di lingkungan tempat seseorang tersebut tinggal. Namun, apakah ini memang benar adanya? Banyak yang sudah membuktikannya dan ini memang benar adanya. Tanpa aktivitas membaca, tidak akan ada pemikiran besar yang terlahir ke dunia. Aktivitas membaca tidak hanya berupa membaca karya-karya tulisan dalam bentuk teks, tapi juga merupakan pembacaan atas berbagai realita yang terjadi sehari-hari. Tapi untuk mampu membaca hal-hal yang terjadi di sekitar, dibutuhkan sebuah keahlian khusus yang tidak didapatkan begitu saja. Butuh latihan secara terus-menerus dan berkelanjutan. Salah satu jalan yang bisa digunakan untuk mampu membaca realitas adalah dengan membaca teks-teks bacaan yang jumlahnya sudah sangat berjubel di dunia ini.

Dengan membaca sebuah karya, kita bisa membaca pemikiran orang lain yang kita anggap luar biasa. Orang-orang yang berpengaruh dalam bidangnya pasti di kelilingi oleh bacaan-bacaan yang tak terhitung jumlahnya. Dari sebuah bacaan kita bisa belajar bagaimana pola pikir orang-orang yang berada jauh dari jangkauan kita. Dari bacaan pulalah kita bisa mempelajari peradaban negara-negara maju di dunia. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya sebuah bangsa yang tidak menumbuhkembangkan bacaan sebagai salah satu poros kegiatan yang inti. Tanpa aktivitas membaca, mustahil sebuah bangsa bisa mendapat predikat sebagai negara maju di dunia.

Mengapa Harus Pesantren?

Mengapa harus pesantren?

Dinamika kehidupan pesantren yang bersistem asrama, yang hidup di bawah naungan kyai selama dua puluh empat jam sehari seharusnya memberikan keunggulan yang lebih bagi pihak pesantren. Namun, apakah gerakan literasi di pesantren benar-benar sudah berada pada arah dan jalan yang benar? Sulit untuk mengatakannya, tapi seperti yang kita lihat di lapangan, gerakan literasi di pesantren masih sangat kurang. Dalam sehari, berapa persen santri yang membaca sumber bacaan di luar buku pelajaran? Memang ada, tapi sangat sedikit jumlahnya. Berapa jumlah santri yang dengan hati mengunjungi perpustakaan dengan niat ingin menambah pengetahuan dan wawasannya? Pasti bisa dihitung jari jumlahnya. Pahit memang, tapi memang demikianlah kenyataannya.

Padahal Seperti yang kita ketahui, peran santri dan pesantren untuk bangsa ini begitu signifikan. Entah sudah berapa banyak alumni pesantren yang turut serta dalam membangun dan memperjuangkan bangsa ini. Peran tersebut akan lebih sempurna jika para santri yang saat ini sedang belajar di pesantren-pesantren yang tersebar di berbagai pelosok negeri dikenalkan dan didekatkan dengan bacaan-bacaan yang ada di perpustakaan milik pesantren. Jika gerakan literasi digalakkan secara masif di pesantren, bukanlah sesuatu yang tidak mungkin negeri ini akan menjadi lebih baik.

(ZA)

Tentang Kami

Darunnajah menyelenggarakan lembaga pendidikan yang lengkap dari tingkat Paud, TK, SD, SMP, SMA, SMK, Pesantren sampai Perguruan Tinggi. Berikut ini kami sampaikan brosur berisi informasi profil lembaga, pendaftaran, biaya, lokasi, nomor kontak, fasilitas, kegiatan, prestasi, dan informasi-informasi penting lainnya. → Klik disini

Punya Pertanyaan?

Kami siap membantu anda. Sampaikan pertanyaan, saran dan masukan anda kepada kami. Silahkan isi form kontak yang telah kami sediakan. Klik pada link berikut ini → Klik disini

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta adalah Pesantren Modern untuk santri putra dan putri mulai dari jenjang Play Group, PAUD, TK, SD, MTs (Tsanawiyah), MA (Aliyah), SMA sampai Perguruan Tinggi. Kegiatan santri antara lain: Shalat berjamaah 5 waktu, mengaji Al-Qur'an, menghafal Al-Qur'an (tahfidz), percakapan bahasa arab dan inggris, latihan organisasi, latihan pidato, olah raga, pramuka, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti silat, jurnalistik, marching band, dll. Kampus Darunnajah dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti mini market, bank, ATM, production house, asrama, koperasi, guest house (penginapan), gedung olahraga (GOR), sekolah, perkantoran, laboratorium, dll. Darunnajah menyediakan beasiswa untuk kaderisasi. Pesantren Darunnajah memiliki 16 cabang di seluruh Indonesia.