a href=”http://darunnajah.com/wp-content/uploads/2011/02/wardati-lagi1.jpg”>img class=”alignleft size-medium wp-image-785″ title=”wardati-lagi” src=”http://darunnajah3.com/wp-content/uploads/2011/02/wardati-lagi1-214×300.jpg” alt=”” width=”214″ height=”300″ />/a>Hop….

Kini aku sudah berteduh di tempat penerimaan tamu, ini bukan ruangan, namun seperti taman kecil yang dipenuhi oleh kursi-kursi panjang yang berhadapan dan ditengahnya terdapat meja panjang. Tempat ini juga ditutupi oleh atap yang terbuat dari seng yang bisa melindungiku dari hujan.

Ku pandangi orang-orang di sekitarku, karena tempat ini adalah penerimaan tamu, jelas banyak wali santri disini, mataku juga terjuju pada satu keluarga.

Sepertinya gadis jambi ini sedang dikunjungi oleh orang tuanya, dan pasti dua anak kecil perempuan dan laki-laki itu adalah adiknya. Tapi kenapa Sasya seperti terlihat kesal sekali, apa yang sedang dibicarakan oleh keluarga itu.

Ah…aku bukanlah santri pengincar gosib, barang kali Sasya sedih karena orang tuanya akan balik lagi ke Jambi. Sesaat kemudian Sasya menoleh kearahku, dia menyadari bahwa aku memperhatikannya, walau aku merasa tak enak telah merusak pembicaraannya, aku hanya dapat melontarkan senyumanku, namun ia malah membuang muka dariku. Benar-benar aneh, apa aku punya salah padanya? Rasa-rasanya baru kemarin aku berkenalan dengannya. Mengapa sekarang dia mkalah enggan membalas senyum dariku, ah..sudahlah, mungkin dia sedang banyak masalah.

Kini pandanganku beralih melihat langit yang makin lama makin gelap, terus ku perhatikan tetesan-tetesan air hujan yang jatuh dari langit menuju tanah dan menjadi genangan air.

Hacyim…aku terbersin-bersih, pasti efek karena bajuku yang ku kenakan basah dan ditambah lagi suhu udara disini sangat dingin, kini badanku menggigil, rasanya bila sudah sampai kamar, aku ingin menyeduh susu hangat dan meringkuk di balik selimut kesayanganku.

Pasti sangat mengasyikkan bukan.

“Chika…” teriak seorang dari kejauhan menyebut namaku, ku picingkan mataku memastikan siapa orang yang berlati-lari kecil sambil membawa payung besar merah jambu dan melambaikan tangan ke arahku, dan setelah ku sadari, gadis itu adalah ka’ Naila ketua kamarku.

“Yuk…balik ke kamar! Ada toam, ana baru aja mudifah,” ajak ka Naila setelah ia sudah ada tepat di depanku.

Alhamdulillah ya Allah, akhirnya ada juga tumpangan payung untuk ku, tanpa pikir panjang aku ikut masuk di bawah naungan payung yang ka Naila pegang dan tidak lupa bilang “syukron ukhti!” lalu kamipun segera menuju gedung asrama.

“Kemana aja sich ente, Chik! Dari tadi kita cariin, udah laper nich, nungguin ente doang!” ujar Athia setelah aku dan ka Naila sampai di kamar.

“Afwan, tadi ana ada di ruang kesenian, tiba-tiba aja ujan, ya udah deh, neduh dulu di tempat penerimaan tamu, nih liah, baju ane, jadi basah!” jelasku.

“Oh…tadi kakak cari kamu di ruang kesenian, tapi adanya Cuma mang Koak aja, terus kata mang Koak kamu udah pergi, untung tadi kakak lewat tempat penerimaan tamu,” kata ka’ Naila menceritakan, lalu beberpaa menit kemudian kita sudah terlena oleh makanan-makanan yang ada di depan kita, kita benar-benar menikmati nasi padang yang lauknya rending, dendeng, plus sambal merah, juga ada sambal hijaunya, yummy…ternyata tak Cuma itu saja, teh hangat juga jadi salah satu penikmatnya, untung  ini semua masih jadi rezekiku, kalau saja aku tak bertemu dengan ka’Naila tapi, pasti saat ini aku tidak bisa menikmati nikmatnya makanan-makanan ini.

Ka’ Naila selalu saja membawakan kami macam-macam makanan kalau orang tuanya sedang datang, begitu juga teman-temanku yang lain, sampai aku benar-benar jadi tidak bisa bergerak kalau sudah melahap semua makanan yang ada di depanku. Tapi kalau sudah di pertengahan minggu, seperti hari Rabu, Kamis, pasti kita semua malah merasa kekurangan, karena jarang sekali pada hari itu santri mudhifah, alhasil, kami jadi kelaparan dan mengandalkan mat’am sebagai patokan terakhir kita. Tapi lagi-lagi, aku tidak pernah menyesali situasi ini, malah aku sangat senang jika diantara kita saling memiliki, kami saling berbagi, tapi kalau kita sama-sama sedang susah, diantara satu sama lain juga ikut merasakan.

Bagi ku,inilah yang paling indah di asrama, berbagi segala hal dan sama-sama merasakan, senang susahnya teman, indah bukan…!!

Oleh : Febrina Dwiyanti (Kelas XI MA Darunnajah Pabuaran)

 

Tentang Kami

Darunnajah menyelenggarakan lembaga pendidikan yang lengkap dari tingkat Paud, TK, SD, SMP, SMA, SMK, Pesantren sampai Perguruan Tinggi. Berikut ini kami sampaikan brosur berisi informasi profil lembaga, pendaftaran, biaya, lokasi, nomor kontak, fasilitas, kegiatan, prestasi, dan informasi-informasi penting lainnya. → Klik disini

Punya Pertanyaan?

Kami siap membantu anda. Sampaikan pertanyaan, saran dan masukan anda kepada kami. Silahkan isi form kontak yang telah kami sediakan. Klik pada link berikut ini → Klik disini

Pondok Pesantren Putri Darunnajah 3 Al-Manshur Serang Banten adalah lembaga pendidikan Islam modern yang menerapkan sistem kurikulum terpadu, pendidikan berasrama serta pengajaran bahasa Arab dan Inggris yang intensif.

Lingkungan asri dan alami yang didukung dengan fasilitas lengkap, membuat santri-santri Al-Manshur selalu bersemangat dalam menuntut ilmu. Pesantren Al-Manshur menyelenggarakan pendidikan dari tingkat Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), Madrasah Diniyah (MD), Madrasah Ibtidaiyah (MI) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP/SLTP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA/SLTA).