Feb 022011
 

Akses hiburan yang sangat mudah saat ini, mulai dari tayangan televisi hingga permainan di komputer , membuat anak-anak cenderung lebih tertarik duduk di depan televisi dan betah berlama-lama di layar komputer memainkan video game. Belum lagi kebiasaan membaca komik, yang tentunya dianggap lebih menarik bagi anak-anak dibandingkan membaca Al Quran. Inilah salah satu tantangan bagi para orang tua dalam mengenalkan Al Quran kepada putra-putri mereka. Padahal, menumbuhkan minat membaca Al Quran haruslah dimulai sedari dini.

Sebagai salah satu solusi, pesantren menjadi salah satu pilihan para orang tua ketika menginginkan putra-putri mereka tumbuh dalam lingkungan islami yang kental. Pesantren dinilai sebagai salah satu lembaga yang mengajarkan nilai-nilai dan ajaran-ajaran islami kepada para siswanya, termasuk membaca Al Quran. Atau, untuk mengenalkan Al Quran, orang tua juga bisa memanggil guru mengaji untuk melatih anak-anak mereka.

Namun, keputusan untuk memasukkan anak sedari dini di pesantren dinilainya kurang tepat. Menjauhkan atau memisahkan anak yang masih kecil, dengan mengirim mereka ke pesantren, ini justru akan membuat anak-anak kehilangan kasih sayang yang seharusnya diinginkan sekaligus dibutuhkan dalam perkembangan mental anak ke depan.

Secara garis besar, ada beberapa alasan mengapa orang tua memilih pendidikan pesantren ketimbang pendidikan umum seperti SMP dan SMA.
1. Biaya Terjangkau
2. Bimbingan Berkelanjutan
Dengan pertimbangan seperti ini, banyak orang tua yang akhirnya memilih untuk memasukkan anak mereka kepesantren tanpa menyadari bahwa peran mereka lebih penting daripada memasukkan anak mereka kepesantren. Pesantren hanya dapat membantu tapi tidak sepenuhnya akan berhasil jika tidak ada peran serta orang tua.

Haruskah Anak Masuk Pesantren?

Oleh, Farid Syauqi santriwan kelas 5 TMI Darunnajah

Sorry, the comment form is closed at this time.